Harga minyak mentah dunia jatu pada perdagangan Kamis (15/1/2026). Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 3% usai pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal kondisi Iran.
Melansir Reuters, data perdagangan pukul 12.21 GMT, Kamis (15/1/2026), harga minyak mentah Brent anjlok US$ 2,19 atau 3,3% ke level US$ 64,33 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terpangkas US$ 2,06 atau 3,3% ke posisi US$ 59,96 per barel.
Anjloknya harga minyak ini dipicu oleh komentar Trump yang menyebut kekerasan terhadap demonstran di Iran mulai mereda. Trump mengindikasikan tidak ada rencana eksekusi massal dalam waktu dekat, sehingga ia memilih sikap wait and see ketimbang intervensi militer.
Para analis menilai komentar tersebut telah mengurangi premi risiko (risk premium) yang sempat meningkat dalam beberapa hari terakhir.
“Meskipun situasi masih rapuh, premi risiko jangka pendek telah melunak, namun kecil kemungkinan akan hilang sepenuhnya mengingat risiko gangguan pasokan yang masih terus mengintai,” ujar analis Saxo Bank, Ole Hansen.
Seorang pejabat AS menyatakan AS mulai menarik sebagian personel dari pangkalan militer di Timur Tengah. Langkah ini diambil setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran telah memperingatkan negara-negara tetangga bahwa akan menyerang pangkalan Amerika jika Washington meluncurkan serangan.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari laporan Energy Information Administration (EIA). EIA menyebut stok minyak mentah dan bensin AS pekan lalu naik melebihi perkiraan para analis.
Di sisi lain, tiga sumber menyebut Venezuela mulai membatalkan pemangkasan produksi minyak yang sebelumnya dilakukan akibat embargo AS, di mana ekspor minyak mentah negara tersebut juga mulai berlanjut.
Dari sisi permintaan, OPEC menyatakan permintaan minyak tahun 2027 kemungkinan akan meningkat dengan sama seperti tahun ini.
Simak juga Video: Harga Minyak Dunia Diprediksi Meroket Usai AS Serang Iran
