Ambisi AS Ambil Alih Minyak Venezuela Bikin China Murka

Posted on

Harga minyak dunia turun pada Rabu setelah Amerika Serikat (AS) membujuk Venezuela untuk mengalihkan sebagian minyak yang sebelumnya dikirim ke China, menjadi ke AS.

Kesepakatan tersebut mencakup rencana impor minyak mentah Venezuela senilai hingga US$ 2 miliar, yang langsung menekan harga di pasar global.

Langkah tersebut memicu reaksi keras dari Beijing, yang menuduh AS bertindak sebagai negara perundung.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning menyebut penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap Venezuela serta tuntutan “America First” dalam pengelolaan sumber daya minyak Venezuela sebagai bentuk perundungan.

“Tindakan ini secara serius melanggar hukum internasional, mencederai kedaulatan Venezuela, dan merusak hak-hak rakyat Venezuela,” ujar Mao dalam konferensi pers, dilansir dari Reuters, Rabu (7/1/2026

China pada 2025 mengimpor sekitar 389.000 barel per hari minyak Venezuela, sekitar 4% dari total impor minyak mentah lautannya. Kini China mengandalkan pasokan dari Iran dan Rusia.

China, Rusia, serta sekutu kiri Venezuela kompak mengecam operasi AS yang menangkap Maduro, yang menjadi intervensi militer terbesar Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega.

Sekutu-sekutu AS juga diliputi kegelisahan atas preseden luar biasa berupa penangkapan kepala negara asing. Presiden AS Donald Trump bahkan terus melontarkan ancaman aksi lanjutan, mulai dari Meksiko hingga Greenland, demi memperluas kepentingan Amerika Serikat.

Kesepakatan tersebut sejalan dengan ambisi Trump untuk mengendalikan cadangan minyak raksasa milik anggota OPEC di Amerika Selatan itu, menyusul penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Maduro dituding AS sebagai diktator pengedar narkoba yang bersekutu dengan musuh-musuh AS. Meski Maduro telah dilengserkan, sekutu Partai Sosialisnya masih memegang kekuasaan di Venezuela.

Presiden sementara Delcy Rodriguez kini berada dalam posisi serba sulit, di satu sisi mengecam penangkapan Maduro sebagai “penculikan”, namun di sisi lain mulai membuka kerja sama dengan Negeri Paman Sam di bawah ancaman terbuka dari Trump.

Trump mengatakan AS akan memurnikan dan menjual hingga 50 juta barel minyak mentah Venezuela yang selama ini terjebak akibat blokade AS. Langkah ini disebut sebagai tahap awal dari rencananya menghidupkan kembali sektor minyak Venezuela yang telah lama terpuruk, meski negara itu memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan uangnya akan dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan dana tersebut digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump.