Usai Venezuela, Siapa Target Trump Berikutnya?

Posted on

Secara tiba-tiba, pada Sabtu (3/1) kemarin dunia dihentak berita Amerika Serikat (AS) menyerang ibu kota Venezuela, Caracas. Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukannya telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Segera setelah itu, pemerintah Venezuela mengumumkan negaranya berada dalam kondisi darurat nasional. Bahkan warga sekitar tampak sudah mulai memborong persediaan makanan dan BBM sebagai antisipasi jika ada serangan lanjutan dari AS.

Terlepas dari itu, dalam beberapa hari terakhir Trump menyampaikan berbagai macam ancaman kepada negara-negara lain bahwa mereka akan berada bawah pengaruh Washington. Ancaman intervensi ini disampaikan dengan berbagai alasan dan pembenaran menurutnya versinya sendiri.

Lantas negara mana saja yang bisa jadi sasaran Trump ke depan? Melansir BBC, Selasa (6/1/2026), berikut daftar negara yang dalam pengawasan Trump:

1. Greenland

Baru saja melakukan intervensi ke Venezuela, Trump langsung mengatakan Greenland semestinya menjadi bagian dari AS. Menurutnya kawasan ini penting untuk dimiliki AS demi menjaga keamanan Negeri Paman Sam itu.

“Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” katanya kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa wilayah tersebut sudah dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China.

Pernyataan Trump ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi Denmark yang selama ini bertanggung jawab atas Greenland. Sebab Greenland merupakan wilayah Denmark yang memiliki pemerintah otonominya sendiri.

Belum lagi wilayah ini kaya akan mineral tanah jarang, yang sangat penting untuk produksi smartphone, kendaraan listrik, dan peralatan militer. Di saat yang bersamaan produksi mineral tanah jarang China jauh melebihi produksi AS, yang memperbesar peluang kawasan itu bisa menjadi incaran Trump selanjutnya.

Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Greenland Jens Frederik Nielsen menyebut gagasan AS untuk mengendalikan Pulau Arktikitu sebagai khayalan semata. Ia juga menegaskan pihaknya dengan tegas menolak berada di bawah kendali Paman Sam, meski mereka juga masih membuka peluang untuk tetap berdialog.

“Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi. Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk diskusi. Tetapi ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional,” katanya.

2. Kolumbia

Hanya beberapa jam setelah operasi militer di Venezuela, Trump memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro untuk hati-hati. Trump menuduhnya presiden negara kaya minyak tetangga Venezuela itu dengan sengaja membiarkan banyak kartel narkoba berkembang, terutama kokain.

Sebelumnya, AS tercatat sudah menjatuhkan sanksi kepada Petro pada Oktober 2025 lalu atas tuduhan tersebut. Belum lagi sejak AS mulai menyerang kapal-kapal di Karibia dan Pasifik timur dengan alasan kapal tersebut membawa narkoba pada September lalu, Trump telah terlibat dalam perselisihan yang semakin memanas dengan Petro.

Berbicara di atas pesawat Air Force One pada Minggu (4/1), Trump mengatakan saat ini Kolombia dipimpin oleh ‘pria sakit’ yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.

“Dia tidak akan melakukannya untuk waktu yang lama,” kata Trump saat itu, dan ketika ditanya apakah AS akan melakukan operasi yang menargetkan Kolombia, Trump menjawab “Kedengarannya bagus bagi saya”.

3. Iran

Saat ini Iran tengah menghadapi protes anti-pemerintah berdarah besar-besaran. Dalam hal ini Trump mengatakan bahwa pihaknya tengah mengawasi jalannya aksi protes dan respons pemerintah di negara Timur Tengah itu.

Ia bahkan memperingatkan bahwa pihak berwenang di sana akan ‘terkena dampak sangat berat’ jika lebih banyak demonstran meninggal. Trump mengatakan AS tidak akan segan-segan memberikan balasan keras jika respons pemerintah Iran terhadap aksi demonstrasi itu kurang memuaskan.

“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat,” katanya kepada wartawan di pesawat Air Force One.

4. Meksiko

Saat Trump pertama kali naik sebagai Presiden AS pada 2016 lalu, ia langsung memerintahkan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan selatan AS dengan Meksiko. Kemudian pada hari pertamanya kembali menjabat pada 2025 kemarin, ia menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama ‘Teluk Meksiko’ menjadi ‘Teluk Amerika’.

Trump juga sering mengklaim bahwa pihak berwenang Meksiko tidak berbuat cukup untuk menghentikan aliran narkoba atau imigran ilegal masuk ke AS. Hingga pada Minggu (4/1) kemarin ia juga mengatakan bahwa narkoba membanjiri Meksiko dan AS harus melakukan sesuatu.

Belum jelas hal seperti apa yang akan dilakukan Trump terhadap Meksiko atas tuduhan pembiaran peredaran narkoba dan imigran gelap itu. Namun Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum secara terbuka menolak segala bentuk aksi militer AS di wilayah negaranya.

5. Kuba

Negara kepulauan yang terletak hanya 145 km di selatan Florida ini telah mendapatkan sanksi AS sejak awal 1960-an. Negara ini memiliki hubungan dekat dengan Venezuela di bawah pemerintahan Nicolás Maduro.

Pada hari Minggu kemarin Trump juga menyatakan bahwa intervensi militer AS di sana tidak diperlukan, karena Kuba akan jatuh dengan sendirinya. Terlebih setelah pihaknya berhasil menangkap Maduro.

Sebab Venezuela dilaporkan memasok sekitar 30% minyak Kuba, sehingga Havana akan rentan jika pasokan runtuh setelah Maduro lengser.

“Saya tidak tahu apakah mereka akan bertahan, tetapi Kuba sekarang tidak memiliki pendapatan. Mereka mendapatkan seluruh penghasilan mereka dari Venezuela, dari minyak Venezuela,” terang Trump. usai