MRT Jakarta merupakan salah satu pilihan transportasi umum yang cukup banyak digunakan masyarakat sekitar. Sejak 2019, moda transportasi ini sudah beroperasi melayani rute Lebak Bulus hingga Bundaran HI.
Meski begitu, belum banyak yang tahu jika tarif moda transportasi massal ini jauh dari nilai ekonomis operasional layanan.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat mencontohkan untuk rute terjauh dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Lebak Bulus atau sebaliknya, tarif yang dikenakan sebesar Rp 14.000. Angka ini jauh dari nilai ekonomi layanan yang berada di Rp 35.000.
“Dari Rp 14.000, sebetulnya ekonomi cost-nya harusnya Lebak Bulus-HI itu kita harus membayar Rp 35.000,” kata Tuhiyat di Transport Hub, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Menurut Tuhiyat sisa Rp 21.000 yang tak dibayarkan pelanggan ini akan disubsidi Pemerintah Provinsi Jakarta dalam program Public Service Obligation (PSO).
“Jadi Rp 35.000 dikurangi Rp 14.000, itu kurang lebih sekitar Rp 21.000 ya. Rp 21.000 itulah yang diberikan oleh Pemprov DKI kepada MRT Jakarta. ‘Saya bayarin orang yang tadi lewat Anda’, itu kira-kira. Itu namanya PSO,” terangnya.
Sebagai informasi, MRT Jakarta tercatat melayani sebanyak 46.449.629 pelanggan selama 2025 kemarin. Rata-rata setiap harinya transportasi massal ini mengangkut 149.542 penumpang.
Jika dihitung sejak Maret 2019 saat MRT Jakarta pertama kali beroperasi hingga Desember 2025 kemarin, total pelanggan yang sudah menggunakan layanan ini capai 182.060.090 pelanggan. Sementara target pelanggan MRT Jakarta pada 2026 sebesar 50.004.484 penumpang dengan rata-rata penumpang 137.000/hari.
“Ada berapa juta penumpang, ada berapa ratus ribu penumpang. Kira-kira seperti itu. Untuk apa nih uang? Memperbaiki fasilitas tadi. Ada yang untuk memperbaiki stasiun, ada untuk menambah fasilitas eskalator, dan sebagainya,” ucap Tuhiyat.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Simak juga Video Pramono Groundbreaking Gerbang Stasiun MRT Harmoni: Pasti Ramai Sekali
