Prediksi IHSG 2026: Bisa Tembus 10.000 atau Balik ke 7.500

Posted on

Arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramal penuh tantangan sepanjang 2026. Sebagai informasi, indeks saham terkoreksi sejak perdagangan tiga hari terakhir, bahkan turun menjauh dari level 9.000-an.

Menjelang penutupan perdagangan sesi II, indeks saham domestik melemah 0,54% ke level 8.946,19. Padahal pada pembukaan perdagangan pagi tadi, IHSG sempat menyentuh level 9.039,66.

Co-Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee menyebut ada dua skenario pergerakan IHSG tahun ini. Pada skenario optimis (bull case), IHSG disebut mampu menembus level 10.000. Sebaliknya, ia juga menyiapkan skenario terburuk (bear case) bagi pergerakan IHSG yang turun ke level 7.500.

“Arah IHSG itu menuju 10.000, biarpun dengan bear case itu ke 7.500 dalam 12 bulan ke depan, tapi arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” ungkap Hans Kwee dalam acara Edukasi Wartawan secara virtual, Jumat (23/1/2026).

Defisit APBN

Ia menjelaskan, pergerakan IHSG menghadapi tantangan yang berat tahun ini. Pertama, banyak investor asing yang khawatir dengan melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 2,92%.

“Potensi capital inflow di pasar saham, tapi mungkin bisa outflow di obligasi kita. Kenapa? Karena ada (investor) asing itu khawatir dengan defisit APBN kita, ya, diperkirakan naik. Kalau defisit lebar, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak obligasi. Nah, kalau obligasi terbit lebih banyak, yield-nya lebih tinggi. Ya itu tertekan,” ungkapnya.

Independensi BI

Dari sisi kebijakan moneter, investor asing juga turut mengkhawatirkan independensi Bank Indonesia (BI) menyusul pencalonan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur. Menurutnya, para pelaku pasar mesti diyakinkan bahwa sosok Thomas merupakan profesional dan independen.

“Jadi, dia sudah mundur dari partai dan orang tuanya juga bekas di BI. Jadi, dia harusnya menyadari, BI ini harus independen. Jadi, ini cuman spekulan dari (investor) asing yang kurang percaya, berpendapat bahwa defisit kita melebar, independensi BI terganggu, sehingga mereka outflow dari pasar kita,” ungkapnya.

Yield Obligasi

Di sisi lain, Hans Kwee menyebut yield obligasi domestik masih berada pada tingkat yang rendah di angka 6%. Meski begitu, ia menyebut Indonesia terdampak kecil dari perang tarif Amerika Serikat (AS). Selain itu, terdapat ruang perbaikan bagi fundamental emiten pada 2026.

Ia menambahkan, IHSG akan terdampak jangka pendek dari rencana perubahan mekanisme penghitungan free float MSCI pada akhir Januari 2026. Hans Kwee juga menyebut sektor consumer, energi, batu bara, emas, nikel, hingga timah masih memiliki kecenderungan yang baik tahun ini.

“Kinerja emiten sempat terpukul di 2025, tapi diperkirakan 2026 potensi perbaikan daya beli masyarakat. Nah, fluktuasi pasar saham akan sangat tinggi di 2026 karena isu-isu yang tadi saya sebutkan,” pungkasnya.

Lihat juga Video: IHSG Bergerak Terbatas

prediksi