Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sempat menembus rekor tertingginya sepanjang masa pada perdagangan sepekan terakhir. Namun setelahnya, IHSG justru terkoreksi secara beruntun hingga penutupan Jumat (23/1) kemarin.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG mencetak rekor pada perdagangan Selasa (20/1) yang menguat 0,01% ke level 9.134,70. Kemudian IHSG melemah beruntun pada hari-hari berikutnya. Pada perdagangan Rabu (21/1), IHSG melemah tajam hingga 1,36% ke level 9.010,33. Tren pelemahan di perdagangan hari selanjutnya, Kamis (22/1), di mana IHSG melemah 0,20% turun ke level 8.992,18.
Kemudian pada perdagangan, Jumat (23/1), IHSG kembali terpuruk 0,46% ke level 8.951,01. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan IHSG melemah 1,37% secara akumulasi di perdagangan sepekan terakhir meski sempat mencetak rekor baru.
“Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut berubah pada pekan ini, yaitu sebesar 1,37% sehingga ditutup pada level 8.951,010, dari posisi 9.075,406 pada pekan lalu. Meskipun demikian, selama sepekan ini, IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa, yaitu ditutup pada posisi 9.134,700 pada Selasa,” ungkap Kautsar dalam keterangannya, dikutip Sabtu (24/1/2026).
Selain itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga melemah sebesar 2,66% menjadi 3,75 juta kali transaksi, dari 3,86 juta kali transaksi. Pelemahan juga terjadi pada kapitalisasi pasar BEI sebesar 1,62% menjadi Rp 16.244 triliun dari Rp 16.512 triliun di pekan sebelumnya.
Kendati demikian, Kautsar mencatat peningkatan pada rata-rata volume transaksi harian BEI sepanjang pekan ini sebesar 9,32% menjadi 65,73 miliar lembar saham, dari 60,13 miliar lembar saham. Kemudian rata-rata nilai transaksi harian BEI turut naik sebesar 3,59% menjadi Rp 33,85 triliun, dari Rp 32,67 triliun.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
“Adapun investor asing hari ini mencatatkan nilai beli bersih Rp 759 miliar dan sepanjang tahun 2026 ini mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 4,05 triliun,” ungkapnya.
