Gejolak ekonomi dalam beberapa waktu terakhir telah menyebabkan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di banyak sektor. Belum lagi kenaikan harga barang dan jasa tanpa peningkatan upah yang berarti membuat isi dompet semakin mudah terkuras.
Alhasil berhemat menjadi salah satu jalan yang bisa dilakukan, khususnya oleh kelas menengah, agar kekayaan mereka tak terus tergerus alias makan tabungan. Namun penghematan sejati saat ini bukan tentang mengurangi pembelian berbagai hal, namun lebih ke bagaimana memilah barang dan jasa yang tidak memberikan manfaat yang berarti.
Melansir New Trader U, berikut 5 hal yang sebaiknya Berhenti dibeli orang-orang kelas menengah agar lebih hemat:
1. Produk Siap Santap
Buah-buahan yang sudah dipotong, salad kemasan, dan produk siap santap lainnya merupakan ‘pajak karena malas’ alias pemborosan. Terlebih bagi mereka kelas menengah yang memiliki dana pas-pasan.
Sebab dengan membeli produk ini yang bersangkutan tidak hanya membayar untuk makanannya saja, tapi juga upah tenaga kerja, pengemasan, dan pengolahan yang sejatinya memberikan nilai tambah minimal.
Sebagai gantinya, belilah produk segar utuh dan peralatan dapur dasar. Selain lebih hemat di setiap pembelian, makanan akan tetap segar lebih lama karena oksidasi yang terjadi lebih sedikit dan rasa lebih enak tanpa tambahan pengawet.
2. Berlangganan Paket Streaming
Di era digital saat ini terdapat berbagai layanan berlangganan seperti streaming video, musik, atau aplikasi premium lainnya. Namun tanpa disadari biaya berlangganan sejumlah layanan ini tanpa disadari menjadi penguras isi dompet.
Terapkan strategi rotasi. Pertahankan satu layanan aktif selama sebulan, tonton semua yang Anda inginkan, lalu batalkan dan pindah ke platform lain. Banyak kartu kredit dan paket seluler menyertakan fasilitas streaming yang dapat mengurangi atau menghilangkan biaya berlangganan.
Batalkan semua langganan streaming yang belum digunakan selama lebih dari sebulan dan jangan perpanjang. Sebab artinya tanpa langganan layanan itu pun, yang bersangkutan tidak kehilangan sumber hiburan untuk rehat sejenak.
3. Makanan Cepat Saji
Makanan cepat saji yang murah dan praktis kerap kali menguras isi dompet dengan cepat tanpa disadari. Hal ini dikarenakan harga makanan cepat saji semakin setara atau bahkan melebihi harga restoran pada umumnya tanpa memberikan kualitas atau layanan yang sebanding.
Makanan cepat saji telah kehilangan nilai jual utamanya, yaitu jauh lebih murah daripada alternatif lainnya. Jika kelas menengah menghabiskan banyak uang per orang di restoran cepat saji, pertimbangkan untuk mengalihkan pengeluaran tersebut.
Warung makan lokal saat ini seringkali menyediakan makanan yang lebih baik dengan harga yang serupa atau bahkan lebih murah. Dengan begitu, tanpa disadari biaya sehari-hari untuk makan di luar dapat semakin rendah.
4. Kejar Tren Pakaian
Tren fesyen yang kini bergerak sangat cepat telah memaksa merek-merek pakaian kelas menengah untuk menurunkan standar kualitas demi mengejar harga jual.
Kemeja dengan harga sedang kini dapat kehilangan bentuk setelah beberapa kali dicuci atau dipakai. Pada akhirnya akan lebih mahal daripada pakaian berkualitas tinggi yang tahan bertahun-tahun.
Karenanya kelas menengah sangat disarankan untuk beralih ke gaya pakaian seragam atau tak mengikuti tren dengan jumlah barang yang lebih sedikit, tetapi berkualitas tinggi. Pakaian-pakaian ini memberikan nilai yang konsisten melalui daya tahan dan gaya yang tak lekang oleh waktu.
5. Produk Elektronik Terbaru
Berganti-ganti dan terus meningkatkan kualitas produk elektronik kerap menjadi sumber pemborosan yang tak disadari. Sebab sebagian besar perangkat modern dirancang berlebihan untuk tugas sehari-hari yang tidak banyak berubah.
Terapkan siklus penggantian yang lebih panjang untuk ponsel, tablet, dan komputer. Penggantian baterai memperpanjang masa pakai perangkat dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada pembelian baru juga dapat menjadi opsi lain dalam berhemat.
Kecuali perangkat yang digunakan saat ini tidak dapat melakukan fungsi-fungsi penting atau menyelesaikan pekerjaan, sering melakukan upgrade tidak banyak memberikan keuntungan finansial.
