OJK: Sepanjang 2025 IHSG Cetak Rekor 24 Kali

Posted on

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berkali-kali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All Time High (ATH), meski dibayangi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai belasan triliun rupiah. Sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor 24 kali.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Inarno Djajadi mengatakan sepanjang 2025, investor asing secara akumulatif masih membukukan net sell senilai Rp 17,34 triliun di pasar saham Indonesia. Namun, kinerja IHSG sepanjang 2025 mencetak rekor dan ditutup solid. IHSG ditutup menguat level 8.646,94 per 31 Desember 2025 atau menguat 22,13% secara year-on-year.

“Sepanjang tahun 2025 lalu, indeks harga saham gabungan membukukan rekor all-time high sebanyak 24 kali,” ujar Inarno dalam RDKB Desember yang disiarkan secara daring, Jumat (9/1/2026).

Rekor IHSG 2025

Inarno menerangkan level tertinggi IHSG pada 2025 tercatat di level 8.710,70 pada 8 Desember 2025, dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai level tertinggi sebesar Rp 16.000 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian saham bulanan pada Desember 2025 terpantau menyentuh all-time high sebesar Rp 27,19 triliun.

“Kenaikan likuiditas transaksi di pasar saham domestik pada semester II 2025 turut didorong oleh meningkatnya peran aktif investor retail domestik, di mana proporsi transaksi investor ritel meningkat tajam dari 38% di tahun 2024 menjadi 50% di tahun 2025,” tambah Inarno.

Meski secara total setahun asing mencatat net sell, memasuki Desember 2025, investor asing terlihat memborong saham Indonesia. Inarno menyebut investor asing membukukan beli bersih (net buy) saham senilai Rp 12,24 triliun pada Desember 2025.

“Pada periode Desember 2025 membukukan net buy saham senilai Rp12,24 triliun secara secara month-to-month (mtm). Kali ini menunjukkan keyakinan dan persepsi yang positif terhadap perekonomian dan pasar domestik,” terang Inarno.

Inarno menerangkan pada pasar obligasi juga menunjukkan tren penguatan pada Desember 2025. Yield SBN secara bulanan turun 4,84 bps, sedangkan secara year-on-year turun sebesar 80,91 bps. Hal ini berarti pemerintah bisa menerbitkan surat utang dengan biaya bunga yang lebih murah.

“Adapun investor non-resident di pasar SBN terpantau mencatatkan inflow di mana pada Desember 2025 tercatat net buy senilai Rp6,49 triliun month-to-month atau year-on-year net buy sebesar Rp2,01 triliun,” jelasnya.

Pada Desember 2025, tercatat penambahan investor baru sebanyak 694 ribu di pasar modal domestik. Dengan perkembangan secara tahunan, jumlah investor di pasar modal meningkat sebesar 5,49 juta atau menjadi secara keseluruhan 20,36 juta.