Elon Musk melakukan gugatan kepada OpenAI dan Microsoft dengan tuntutan ganti rugi hingga US$ 134 miliar atau sekitar Rp 2.215 triliun (Kurs Rp 16.800). Tuntutan tersebut ada karena Elon Musk mengklaim berhak atas “keuntungan yang diperoleh secara tidak sah” yang diterima kedua perusahaan tersebut dari kontribusinya saat ikut terlibat mendirikan OpenAI.
Dalam dokumen gugatan yang diajukan ke pengadilan federal pada Jumat (16/1/2026), OpenAI disebut memperoleh keuntungan antara US$ 65,5 miliar hingga US$109,4 miliar berkat dukungannya pada 2015. Sementara Microsoft memperoleh keuntungan antara US$ 13,3 miliar hingga US$ 25,1 miliar.
“Tanpa Elon Musk, tidak akan ada OpenAI. Ia menyediakan sebagian besar pendanaan awal, meminjamkan reputasinya, dan mengajarkan semua yang ia ketahui tentang cara menjalankan bisnis. Seorang ahli terkemuka telah mengidentifikasi nilai tersebut,” ujar pengacara utama Musk, Steven Molo, dalam pernyataannya dikutip dari Reuters, Minggu (18/6/2026).
Sementara itu, OpenAI menepis adanya klaim dari Elon Musk. OpenAI menyatakan bahwa tuntutan Musk sebagai “permintaan yang tidak serius” dan bagian dari apa yang mereka sebut sebagai “kampanye pelecehan”.
Pengacara Microsoft menegaskan tidak ada bukti bahwa perusahaannya membantu atau bersekongkol dengan OpenAI.
Adapun kedua perusahaan itu menantang klaim ganti rugi Musk dalam pengajuan terpisah pada Jumat. Musk, yang meninggalkan OpenAI pada 2018 dan kini menjalankan xAI dengan chatbot pesaing Grok, menuduh operator ChatGPT, OpenAI, melanggar misi pendiriannya dalam restrukturisasi besar-besaran menjadi entitas berorientasi laba.
Kedua perusahaan juga membantah secara umum angka ganti rugi yang diajukan Musk, dengan menyatakan bahwa pendekatan ahli tersebut tidak dapat diandalkan dan berpotensi menyesatkan juri.
Seorang hakim di Oakland, California, bulan ini memutuskan bahwa perkara tersebut akan disidangkan oleh juri, dengan persidangan diperkirakan dimulai pada April.
Dalam pengajuannya, Musk menyatakan bahwa ia menyumbang sekitar US$ 38 juta, atau 60% dari pendanaan awal OpenAI, membantu merekrut staf, menghubungkan para pendiri dengan jaringan kontak, serta memberikan kredibilitas pada proyek tersebut saat didirikan.
“Sama seperti investor awal di sebuah perusahaan rintisan yang dapat merealisasikan keuntungan berkali-kali lipat dari investasi awalnya, keuntungan tidak sah yang telah diperoleh OpenAI dan Microsoft dan yang kini berhak diminta kembali oleh Tuan Musk jauh lebih besar daripada kontribusi awal Tuan Musk,” demikian argumen Musk.
