Pernah nggak merasa uang bulanan makin cepat habis padahal pengeluaran rasanya sama saja? Ternyata, bukan kamu yang boros, tapi memang nilai uangmu yang sedang tergerus.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan kondisi ini terjadi akibat efek inflasi. Inflasi membuat harga barang-barang naik sehingga nilai mata uang yang kita pegang perlahan menurun.
“Harga naik, uang yang sama jadi ‘kurang nendang’. Kalau uang cuma disimpan tanpa strategi, nilainya bisa tergerus dari waktu ke waktu,” tulis OJK dalam unggahan di akun Instagram @ojkindonesia, dikutip Minggu (18/1/2026).
OJK memberikan ilustrasi bagaimana inflasi dapat memakan uang simpanan jika hanya didiamkan. Jika kamu menabung Rp 1 juta dengan tingkat inflasi 5% setahun. Tahun depan, nilainya setara Rp950.000.
Investasi menjadi salah satu cara cerdas agar uangmu tidak tergerus oleh inflasi. Jika uang Rp 1 juta tadi diinvestasikan dengan instrumen dengan imbal hasil (return) 7%, nilainya bisa jadi Rp1.070.000.
“Artinya, uang bukan cuma bertahan, tapi punya peluang ikut tumbuh,” tambah OJK.
Setidaknya ada tiga alasan mengapa investasi menjadi kunci melawan inflasi. Pertama, nilai uang bisa ikut tumbuh karena beberapa instrumen investasi punya potensi imbal hasil di atas inflasi.
Kedua, membantu capai tujuan keuangan mulai dari dana liburan, pendidikan, sampai pensiun, semua butuh persiapan. Ketiga, keuangan jadi lebih tahan banting sehingga keamanan dana nggak cuma aman hari ini, tapi lebih siap untuk masa depan.
Meski investasi itu penting, OJK mengingatkan masyarakat agar tidak asal ikut-ikutan alias Fear of Missing Out (FOMO). Investasi bukan lomba, jadi harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
“Kenali dulu profil risikomu. Jangan gampang FOMO atau tergoda cuan instan,” tegas OJK.
Sebelum menyetor dana, masyarakat diminta untuk selalu melakukan prinsip 2L (Legal dan Logis). Pastikan produk dan lembaganya terdaftar serta diawasi oleh OJK, mengingat modus investasi bodong yang semakin kreatif.
