Di balik gang-gang sempit kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, odong-odong yang kerap dipandang sebagai wahana hiburan sederhana masyarakat melintas perlahan, mencari penumpang agar bisa bertahan hidup. Meski omzet sehari-hari tidak tetap, namun jumlah uang yang bisa dibawa pulang para sopir wahana berjalan ini tergolong cukup.
Misalkan saja Deni, salah seorang sopir odong-odong yang sempat ditumpangi detikcom. Hampir setiap hari ia berkeliling Kelurahan Rawa Bunga, Jatinegara, menarik penumpang utamanya warga sekitar dan anak-anak berangkat dan pulang sekolah.
“Narik dari jam 07.00, banyak anak sekolah. Habis itu rada sepi, muter paling sekali-sekali saja. Ramai lagi baru jam satu, dua sampai tigaan lah pas pulang sekolah kan. Kalau ramainya sudah kehitung jam berapa-berapa memang,” kata Deni saat ditemui detikcom, Selasa (13/1/2026).
Ia sendiri sudah bekerja sebagai sopir odong-odong sejak 2021 lalu. Profesi ini mulai ditekuni Deni saat ia mengundurkan diri di tengah pandemi.
“Dulu saya sama orang kerja, cuma karena pandemi mengundurkan diri. Dulu kerja di aksesoris sama souvenir nikahan, waktu itu sepi kan, jadi mundur,” jelasnya.
Sejak saat itu, sudah lebih dari lima tahun Deni dengan kendaraan berbentuk unik itu mengitari jalan-jalan besar dan kecil sekitar Kelurahan Rawa Bunga, seperti Jalan Jatinegara Timur I hingga IV, Jalan Kober, Jalan Bekasi Timur dan Jalan Bekasi Barat.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Saat melewati pukul 12.00, odong-odong yang melintas tampak semakin banyak, ingin ikut mengangkut anak berseragam putih merah yang baru selesai sekolah. Semakin siang, hiburan murah meriah ini semakin mudah ditemukan.
Untuk biaya naik odong-odong, Deni mengenakan tarif hanya Rp 2.000 untuk anak sekolah, dan Rp 5.000 untuk dewasa. Khusus tarif dewasa ini sudah termasuk dengan balita yang biasanya turut dibawa penumpang.
“Kalau sehari-hari memang lebih banyak narik buat orang pulang-pergi saja. Kan ini banyak muter sampai masuk gang kan, jadi banyak yang naik turun depan rumah, kaya angkot saja, cuma sampai masuk ke dalam. Sabtu-Minggu baru banyak yang naik buat wira-wiri, buat hiburan lah,” jelasnya.
Seharian tarik odong-odong, Deni mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000 – 500.000. Ini merupakan pemasukan bersih setelah menyisihkan modal biaya sewa odong-odong dan bensin untuk berkeliling.
“Kalau lagi cakep bisa Rp 300.000, Rp 400.000. Pahit-pahitnya bawa Rp 100.000 lah. Bersih itu, sudah bensin, sudah kenyang lah sama makan, pulang bawa segitu,” paparnya.
“Setoran normal Rp 100.000, tapi kalau lagi sepi bisa Rp 80.000, itu setoran sehari, kalau nggak narik ya nggak bayar setoran. Bensin sekitar Rp 30.000 lah, full tangki muter-muter seharian itu,” terang Deni lagi.
Selain dirinya, di sekitar kawasan Stasiun Jatinegara ini terdapat 55 orang yang bekerja sebagai sopir odong-odong. Banyak di antara mereka yang bekerja dengan bos pemilik odong-odong seperti Deni, dan hanya sedikit yang memiliki odong-odong sendiri.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana odong-odong tak hanya menjadi sumber kehidupan Deni saja, namun juga para sopir lainnya hingga para pemilik wahana hiburan murah berjalan itu.
“Di sini ada 55, bosnya beda-beda. Hari ini lagi ramai yang narik, soalnya kemarin hujan deras banyak yang nggak narik kan. Saya juga kemarin nggak narik, makanya sekarang narik, semoga saja nggak hujan ini,” papar Deni.
Tonton juga video “Momen RK Naik Odong-Odong Bareng Relawan Sapa Warga Ciracas Jaktim”
