Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela. Menurut Trump, Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, ditangkap dalam operasi tersebut lalu diterbangkan keluar dari Venezuela.
Menurut Trump langkah ini melibatkan dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum Amerika Serikat.
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut. Operasi ini dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS,” kata Trump, dilansir dari CNBC, Sabtu (3/1/2026).
Bicara tentang Venezuela, salah satu negara di kawasan Amerika Selatan ini, tidak lepas dari kondisi ekonomi yang buruk. Bahkan, pada April 2025 lalu, Maduro sempat mengumumkan Venezuela dalam kondisi darurat ekonomi.
Darurat Ekonomi
Mengutip Reuters, pada April 2025, Majelis Nasional Venezuela mengesahkan sebuah dekrit diajukan Presiden Maduro, yang menetapkan status darurat ekonomi sebagai respons atas sanksi dan tarif yang dijatuhkan AS.
Sebelumnya, Maret 2025, pemerintahan AS mulai mencabut izin operasi sejumlah perusahaan minyak yang bekerja sama dengan perusahaan minyak negara Venezuela, serta memberlakukan tarif sekunder terhadap ekspor minyak mentah dan gas.
Maduro menandatangani dekrit tersebut dengan merujuk pada kewenangan konstitusional untuk menetapkan keadaan darurat. Aturan baru itu memberi kewenangan kepada pemerintah untuk menerapkan berbagai langkah, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi, memberikan perlakuan khusus bagi investor, menangguhkan pajak atau insentif tertentu, serta membangun mekanisme substitusi impor.
Wakil Presiden sekaligus Menteri Perminyakan Venezuela, Delcy Rodriguez, mengatakan saat mempresentasikan dokumen tersebut kepada parlemen bahwa dekrit darurat ini ditujukan untuk menopang produksi nasional.
Dia mengakui perekonomian terdampak oleh kebijakan Amerika Serikat, namun menegaskan produksi minyak dan gas tetap berjalan meski harga turun sekitar 30%.
Rodriguez juga menegaskan bahwa Venezuela tetap terbuka bagi produsen internasional selama mereka mematuhi hukum yang berlaku di negara tersebut.
Kondisi Ekonomi Terkini
Melansir data IMF, pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 diproyeksikan hanya 0,5%. Nilai PDB sebesar US$ 82,77 miliar menunjukkan ukuran ekonomi yang menyusut jauh dibanding era sebelum krisis.
Produk domestik bruto per kapita Venezuela mencapai US$ 3.100 pada 2025, menggambarkan daya beli masyarakat yang masih rendah. Berdasarkan paritas daya beli, PDB per kapita naik ke US$ 8.790, mencerminkan selisih besar antara nilai tukar resmi dan daya beli riil.
Total PDB berdasarkan paritas daya beli sebesar US$ 234,34 miliar, setara hanya 0,11% dari ekonomi dunia. Kontribusi yang kecil ini menandakan mengecilnya bobot Venezuela di perekonomian global.
Inflasi masih berada di level ekstrem, dengan rata-rata inflasi konsumen 269,9% pada 2025. Inflasi pada akhir periode bahkan diperkirakan 548,6%, menunjukkan tekanan harga masih sangat berat bagi rumah tangga.
Populasi Venezuela diperkirakan 26,89 juta jiwa pada 2026, mencerminkan dampak migrasi besar-besaran beberapa tahun terakhir. Di sisi lain, pengangguran mencapai 35,6%, menandakan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal.
Neraca transaksi berjalan menunjukkan surplus US$ 3,52 miliar pada 2025, atau sekitar 4,2% dari PDB. Meski positif, surplus ini lebih banyak ditopang komoditas daripada ekspansi sektor produktif.
Dari sisi fiskal, pemerintah masih mencatat defisit dengan net lending/borrowing -3,6% terhadap PDB pada 2024. Pada saat yang sama, utang pemerintah umum tembus 164,3% PDB, menempatkan Venezuela dalam kategori beban utang yang sangat tinggi.
