Rio Tinto sedang mengadakan pembicaraan awal untuk membeli Glencore. Jika kesepakatan ini berhasil, keduanya bisa menjadi perusahaan tambang terbesar dunia dengan nilai pasar hampir US$ 207 miliar.
Mengutip Reuters, Sabtu (10/1/2026), perusahaan tambang global saat ini berlomba memperbesar skala usaha, terutama di logam seperti tembaga, yang diprediksi akan mendapat permintaan tinggi akibat transisi energi dan teknologi kecerdasan buatan. Tren ini memicu ekspansi proyek dan upaya merger, termasuk merger yang sedang menunggu keputusan antara Anglo American (AAL.L).
Pembicaraan Rio Tinto dan Glencore merupakan putaran kedua dalam setahun terakhir. Sebelumnya, Glencore sempat mendekati Rio Tinto pada akhir 2024, namun kesepakatan saat itu gagal. Kedua perusahaan belum mengungkap aset mana yang akan disertakan dalam kesepakatan ini.
Kemungkinan kesepakatan akan berupa pembelian seluruh atau sebagian Glencore dengan skema pertukaran saham. Namun, belum ada kepastian apakah akan ada premi akuisisi atau siapa yang akan memimpin perusahaan gabungan. Jefferies menilai, struktur merger ini kompleks tapi berpotensi menciptakan nilai signifikan bagi kedua perusahaan.
Investor bereaksi berbeda atas kabar ini. Saham Glencore di AS naik 6% setelah pembicaraan dikonfirmasi. Sementara itu, saham Rio Tinto di Australia turun 6,3%, mencerminkan keraguan investor bahwa Rio Tinto akan membayar terlalu mahal.
“Banyak merger besar di industri tambang berakhir merugikan. Investor jelas khawatir. Kita sering melihat merger besar terjadi di puncak pasar dan akhirnya mengurangi nilai saham jangka panjang,” kata Chief Investment Officer Atlas Funds Management dan pemegang saham Rio Tinto, Hugh Dive.
Saat ini, Rio Tinto merupakan penambang bijih besi terbesar dunia dengan nilai pasar sekitar US$ 142 miliar, sedangkan Glencore, salah satu produsen logam dasar terbesar, bernilai sekitar US$ 65 miliar. Jika merger terjadi, gabungan keduanya akan menguasai skala produksi dan distribusi logam yang sangat besar di dunia.
Menurut aturan pengambilalihan Inggris, Rio Tinto memiliki waktu hingga 5 Februari 2026 untuk membuat penawaran resmi atau menyatakan tidak akan melanjutkan kesepakatan. Sampai saat ini, belum ada kepastian soal struktur manajemen maupun aset yang akan disertakan.
Analis menilai, merger ini bisa menjadi langkah strategis bagi Rio Tinto untuk memperluas portofolio logamnya, termasuk tembaga yang diprediksi akan terus naik permintaannya. Namun, risiko overpay dan tantangan integrasi perusahaan besar tetap menjadi perhatian investor. raksasa
