Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 4,75%. Begitu pula dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,5%.
Chief Economist dari Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan keputusan BI menahan suku bunga acuan itu dimaksudkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Sebab menurutnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik saat ini terbukti mendorong investor asing untuk menarik aliran modal mereka keluar dari Indonesia (capital outflow), yang membuat posisi rupiah kini semakin tertekan hingga ke level Rp 16.900 per dolar AS.
“Terkait dengan BI-rate 4,75% tentunya ini kestabilan rupiah jadi salah satu hal yang dipertimbangkan ya. Terkait dengan rupiah saya nilai level 16.900 ini posisinya sudah overshoot. Sudah jauh lebih tinggi daripada nilai yang seharusnya,” kata Fakhrul kepada wartawan di Gedung Kwarnas Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
“Ini biasa kejadian ketika ada kondisi lagi risk-off. Ketika ada kondisi lagi risk-off dan juga Amerika belum jelas ya kapan mau potong bunga jadinya pasarnya risk-off,” sambungnya.
Fakhrul percaya imbas ketidakpastian global ini dalam jangka pendek nilai tukar rupiah akan terus melemah hingga tembus di atas Rp 17.000/dolar AS. Membuat aksi BI untuk mempertahankan suku bunga menjadi semakin penting untuk dilakukan.
“Saya punya pandangan apakah rupiah bisa mencapai Rp 17.000/dolar, mungkin bisa tercapai dalam jangka pendek tapi tidak akan selamanya. Saya melihat rupiah di Rp 17.000/dolar kondisinya overshoot,” jelas Fakhrul.
Meski nilai tukar dolar terhadap diramal bisa tembus Rp 17.000 dalam jangka pendek, ia optimistis mata uang Garuda ini dapat kembali menguat yang didorong oleh neraca perdagangan yang masih positif. Di mana Fakhrul memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 ini akan berada di kisaran Rp 16.500an.
“Saya lihat dengan harga metal dan lain-lain yang masih terus meningkat, harga timah masih naik, harga nickel, recovery trade balance Indonesia bisa positif. Ini sebenarnya sangat terkait dengan manajemen neraca pembayaran,” paparnya.
Di luar itu, ia menyarankan Pemerintah khususnya Kementerian Keuangan untuk menerbitkan obligasi luar negeri atau global bond untuk menahan dolar tetap berada di Indonesia.
“PR yang sebenarnya harus dilakukan oleh pemerintah saat ini itu adalah menambah aset dolar yang ada di dalam negeri. Nah, kalau zaman dulu waktu rupiah masih 10.000 atau 11.000 (per dolar) itu bisa kuat karena pemain-pemain komoditas Indonesia punya global bond,” terangnya.
“Nah, yang kita kehilangan saat ini itu orang punya dolar tapi nggak ada tempat, aset, untuk simpan dolarnya di dalam negeri. Makin nggak ada perusahaan yang keluarkan obligasi dolar. Jadi kalau nggak ada proyeknya, ngapain dolarnya taruh di Indonesia? Itu satu hal yang kejadian,” tutur Fakhrul lagi.
Sebagai informasi, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada tanggal 20 dan 21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI rate tetap sebesar 4,75%. Deposit Facility 3,75% dan Lending Facility tetap 5,5%.
Langkah ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi, serta sinergi untuk turut memperkuat pertumbuhan ekonomi.
“Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini yaitu pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global guna mendukung capaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Rabu (21/1/20256).
