Iran dilanda krisis ekonomi. Nilai tukar mata uangnya, rial anjlok ke level terendah sepanjang sejarah hingga menjadikannya sebagai mata uang terlemah.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Melemahnya mata uang langsung mendongkrak harga kebutuhan pokok dan memperparah krisis yang telah lama membelit Iran akibat sanksi global. Hal itu menyebabkan munculnya gelombang demonstrasi yang masih berlanjut hingga saat ini.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (15/1/2026), nilai rial merosot sekitar 45% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2025. Kondisi itu membuat impor termasuk gandum, minyak goreng dan bahan-bahan farmasi menjadi lebih mahal hingga direspons oleh pedagang dengan menaikkan harga.
Akibatnya, inflasi pangan melonjak hingga 70% secara tahunan menurut perkiraan Gavekal Research. Banyak warga sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pangan mereka hingga media lokal melaporkan setengah dari populasi mengkonsumsi kurang dari standar 2.100 kalori per hari. Tekanan tersebut diperparah oleh kekeringan berkepanjangan serta buruknya pengelolaan sumber daya air yang menekan produksi pangan domestik.
Kemarahan warga Iran yang meluas juga akibat salah urus sumber daya alam (SDA) negara. Pemerintah menyesuaikan mekanisme subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada Desember 2025 yang menyebabkan kenaikan harga hingga menambah biaya bagi rumah tangga dan bisnis.
Masalah ekonomi Iran tidak berhenti di situ. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dan pasar tenaga kerja yang lemah dengan estimasi tingkat partisipasi angkatan kerja hanya sekitar 41%, menciptakan kondisi yang sangat berat bagi usaha kecil dan menengah hingga membuat mereka banyak gulung tikar.
Seiring semakin banyak warga Iran jatuh ke jurang kemiskinan, rasa frustrasi dan kebencian tumbuh terhadap kelompok yang memiliki koneksi politik sehingga tetap terlindungi. Dalam beberapa hari terakhir, terlihat bahwa sebagian besar penduduk mulai bersatu menyuarakan tuntutan perubahan politik.
Bahkan Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai simbol basis konservatif pendukung pemerintah, dilaporkan melakukan mogok hampir dua pekan. Perbedaan penting lainnya adalah melemahnya posisi geopolitik Iran.
Tahun lalu, Presiden Suriah Bashar al Assad digulingkan sehingga mengakhiri aliansi strategis yang selama ini menjadi pilar pengaruh Teheran di kawasan. Iran juga menyaksikan sekutu-sekutunya, Hizbullah dan Hamas terus dilemahkan oleh serangan di Lebanon dan Gaza.
Ketegangan dengan Israel yang berlangsung secara berkala selama dua tahun terakhir mencapai puncaknya ketika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada Juni 2025. Presiden Donald Trump bahkan terus melontarkan ancaman tindakan lanjutan, termasuk dukungan terhadap demonstran.
“Terlepas dari apakah ancaman Trump dianggap kredibel atau tidak, pemerintah Iran kini menghadapi kemungkinan konflik yang nyata,” kata Kepala Geoekonomi Timur Tengah, Dina Esfandiary.






