Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim ingin memperbaiki industri minyak Venezuela setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap militer AS. Ia berencana menugaskan perusahaan raksasa minyak Negeri Paman Sam untuk membangun kembali industri minyak Venezuela yang hancur.
Para pengamat industri energi mengingatkan bahwa rencana itu kemungkinan membawa lebih banyak risiko daripada keuntungan bagi raksasa minyak AS. Meskipun tampak menggiurkan, mengekstraksi lebih banyak minyak dari Venezuela membutuhkan pembangunan infrastruktur minyak yang menelan biaya miliaran dolar AS.
“Dan harga minyak mentah saat ini tidak cukup tinggi untuk membuat investasi semacam ini menjadi mudah. Selain itu, penyulingan minyak mentah khas Venezuela sendiri merupakan usaha yang mahal,” kata Peneliti Senior di Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Clayton Seigle dikutip dari CNN, Senin (5/1/2026).
Selain itu, menurutnya akan sulit untuk menjualnya di negara yang sedang dilanda krisis politik setelah penggulingan presidennya.
“Hal itu akan menjadi perhatian utama para perencana perusahaan dan perencana industri yang ingin mempertimbangkan peluang bagus di sana,” tuturnya.
Sebelumnya, Trump mengatakan AS akan mengambil alih negara itu sampai kepemimpinan yang aman terbentuk. Pihaknya akan memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak untuk kemudian ikut menjualnya.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” ungkap Trump.
Saksikan Live DetikPagi:
Tonton juga video “Trump Sebut AS Akan Ambil Alih Minyak Venezuela”






