Venezuela memanas! Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja melakukan serangkaian aksi serangan militer ke negara kaya cadangan minyak tersebut dan pada ujungnya otoritas AS tiba-tiba menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dengan berbagai tuduhan, termasuk penyelundupan narkoba.
Setelah rangkaian aksi tersebut, Trump mengumumkan akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela. Langkah ini dilakukan melalui pengerahan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk berinvestasi miliaran dolar. Lantas apa dampaknya ke ekonomi Indonesia?

Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda memperkirakan apa yang terjadi di Venezuela dampaknya tidak akan besar menghantam ekonomi Indonesia. Sebab, secara bilateral, perdagangan antara Indonesia dan Venezuela cenderung kecil, hanya 0,02% dari total ekspor saja.
“Dengan porsi yang kecil, sebenarnya dampak secara langsung tidak akan signifikan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dengan kata lain, Venezuela bukan mitra dagang dan investasi Indonesia,” ujar Nailul Huda kepada detikcom, Senin (5/1/2025).
Lebih lanjut, potensi dampak konflik di Venezuela ke harga minyak global juga relatif minim, meskipun Venezuela mempunyai cadangan minyak besar. Sebab, selama ini produksi minyak oleh Venezuela sangat minim beberapa dekade ini.
“Jadi dia tidak mempunyai pengaruh terhadap pergerakan minyak global. Tidak berpengaruh juga terhadap ICP ataupun subsidi migas kita ataupun ke APBN,” papar Nailul Huda.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menambahkan dampak gejolak yang terjadi di Venezuela diperkirakan belum sepenuhnya jadi indikator menguatnya krisis global.
Krisis geopolitik biasanya tercermin dari beralihnya minat investor ke dolar AS sebagai safe haven. “Belum terlihat investor global panik karena kejadian di Venezuela,” ujar Bhima kepada detikcom.
Bhima melanjutkan harga minyak mentah juga masih rendah belum terlihat kenaikan signifikan. Bahkan, saat ini harga minyak sempat terkoreksi 22% dalam satu tahun terakhir. Kalaupun naik, kemungkinan tidak akan besar karena tidak akan menembus harga kewajaran setelah pelemahan panjang harga minyak dunia.
Sementara itu, peneliti ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Randy Manilet menilai dampak dari cawe-cawe Trump ke Venezuela pada akhirnya sangat ditentukan oleh durasi ketidakpastian yang ditimbulkan. Bagi Rendy, pemanasan tensi di Venezuela berisiko menghidupkan kembali ketidakpastian global yang pada ujungnya bisa memberikan dampak kepada pergerakan perdagangan internasional di Indonesia.
“Ini berisiko menghidupkan kembali ketidakpastian yanng sempat mereda seiring berbagai negosiasi geopolitik pada tahun sebelumnya, dan menjadi risiko tersendiri bagi perdagangan global Indonesia,” ujar Rendy ketika dihubungi detikcom.
Dari sisi harga komoditas, bila ketegangan terus berlanjut dan ketidakpastian kembali menaungi ekonomi global, Rendy bilang dampaknya bersifat dua arah.
Kenaikan harga komoditas tambang akan terjadi seperti batu bara, nikel, dan tembaga dan ini menimbulkan kesempatan menguntungkan bagi pendapatan Indonesia. Sebab, peningkatan nilai ekspor dan surplus neraca perdagangan bisa terjadi.
Namun, kenaikan harga komoditas energi, terutama minyak, justru menjadi risiko yang harus diwaspadai. Sebab bila harga minyak naik tinggi karena ketidakpastian yang terjadi.
“Ini dapat meningkatkan nilai impor dan menekan fiskal apabila harga minyak melampaui asumsi APBN 2026,” kata Rendy.
Di sisi lain, dalam jangka pendek, Rendy juga menggarisbawahi eskalasi geopolitik dapat berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah melalui kanal pasar keuangan.
Meningkatnya risk-off sentiment mendorong penguatan Dolar AS dan memicu arus keluar modal portofolio dari pasar keuangan domestik, baik di pasar SBN maupun saham.
“Tekanan ini dapat diperkuat oleh kenaikan premi risiko negara serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter global apabila lonjakan harga energi memicu tekanan inflasi,” papar Rendy.
Meskipun, kinerja ekspor komoditas dapat menjadi penopang fundamental pendapatan dan ekonomi Indonesia, tapi dalam jangka pendek dinamika sentimen pasar sering kali lebih dominan dibandingkan faktor fundamental tersebut.





