Kementerian Perhubungan (Kemenhub) buka suara terkait insiden sayap bangkai pesawat yang menimpa sejumlah rumah di Kampung Babakan, Desa Pondok Udik, Bogor, Jawa Barat pada Senin (29/12) sore imbas terbawa angin puting beliung.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Dirjen Perhubungan Udara (Hubud) Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan sudah menerjunkan tim untuk melakukan pemeriksaan atas kejadian tersebut. Sejauh ini menurutnya bangkai pesawat yang terparkir di sana sudah dibeli oleh pihak ketiga untuk dimanfaatkan lagi bagian badannya.
“Kami juga terjunkan tim di daerah Bogor ya, itu memang ada tempat penampungan pesawat yang sudah tidak terpakai,” ungkap Lukman kepada detikcom usai media briefing Angkutan Nataru 2025/2026, Jakarta, Rabu kemarin.
“Ya kan memang ada yang menampung ya, membeli untuk mungkin dijual kembali, untuk dijadikan restoran atau rumah atau pajangan. Nah salah satu tempatnya itu yang kejadian kemarin,” sambungnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bangkai-bangkai pesawat tersebut sudah tidak lagi terdaftar dalam Buku Daftar Pesawat Udara Sipil alias Civil Aircraft Register. Artinya bangkai-bangkai pesawat itu sudah tidak lagi di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Hubud.
“Jadi sudah lama tidak beroperasi di Indonesia, jadi sudah tidak terdaftar, sehingga itu di luar tanggung jawab kami, Perhubungan Udara,” terang Lukman.
Dengan begitu juga, bangkai pesawat termasuk bagian-bagiannya seperti sayap yang terbawa puting beliung sepenuhnya tanggung jawab pemilik bangkai.
“Kalau maskapai sudah jual, itu menjadi tanggung jawab yang beli lah. Sama seperti penampungan mobil-mobil bekas gitu ya, kurang lebih seperti itu,” kata Lukman.
Sebagai informasi, Puting beliung menerjang kawasan Kemang, Bogor, Jawa Barat pada Senin (29/12/2025) kemarin. Sebanyak 55 rumah rusak bahkan ada rumah yang tertimpa sayap pesawat bekas yang terbawa angin.
Sayap pesawat bekas tersebut diduga berasal dari bengkel pesawat atau tempat penampungan pesawat bekas. Lokasinya berjarak sekitar 300 meter dari rumah warga yang rusak. Material tersebut dipastikan sudah tidak terpakai, lalu terbawa angin.
Diketahui sayap pesawat tersebut menimpa atap dua rumah yang saling berdekatan. Posisinya miring, di mana ujung kanan dan kiri sayap pesawat tidak bergerak karena tertahan pondasi atap.
