Tiang-tiang pancang sisa proyek monorel di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, yang sempat dibiarkan mangkrak selama puluhan tahun resmi dibongkar oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mulai hari ini, Rabu (14/1).
Berdasarkan pengamatan detikcom di lokasi, sisa peninggalan proyek mangkrak ini berada di sepanjang ruas Jalan H.R. Rasuna Said Sisi Timur dengan titik awal setelah Jalan Gembira (dekat Stasiun LRT Setiabudi) hingga titik akhir pada Jalan Jenderal Gatot Subroto (Simpang Kuningan).
Untuk tiang-tiang yang berada di dekat Stasiun LRT Setiabudi ini, terlihat ‘prasasti’ peninggalan proyek mangkrak itu sudah dililit dengan pita proyek bewarna kuning-hitam. Di tengahnya terdapat tulisan “Hati-hati. Kurangi kecepatan kendaraan Anda.”
Bahkan di salah satu tiang, terdapat sudah ditutup sebagian oleh papan proyek. Hal ini menjadi penanda bahwa tiang-tiang tersebut akan segera dibongkar.
Sedikit lebih jauh, tiang-tiang monorel Jakarta masih berdiri tegak dengan banyak karat tanpa penanda khusus. Rata-rata paling rendah tinggi tiang ini hanya sekitar 3 meter dengan yang tertinggi kurang lebih sekitar 7 meter.
Tiang-tiang ini berdiri saling berdekatan, hanya berjarak beberapa meter antar satu dengan yang lain. Jarak antara satu tiang dengan yang lain ini berbeda-beda antara satu dengan yang lain, ada yang cukup renggang tapi ada juga yang cukup dekat.
Untuk tiang-tiang yang tinggi, terlihat sebagian badannya sudah dibeton. Pada bagian yang sudah dibeton itu terlihat ada beberapa dihiasi oleh gambar-gambar yang terlihat sudah mulai luntur.
Sementara untuk tiang-tiang pancang proyek monorel yang lebih pendek terlihat hanya terdiri dari rangka-rangka baja, ada yang sudah sedikit di beton dan ada juga yang hanya rangka tertanam di tengah jalan.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Secara keseluruhan mayoritas ukuran tiang pancang yang dibiarkan mangkrak itu merupakan tiang dengan panjang kurang lebih 3 meter. Di sepanjang jalur tiang-tiang tersebut juga sudah dibangun trotoar pembatas jalan.
Di sepanjang trotoar ini banyak dihiasi tanaman hijau untuk ‘menghiasi’ peninggalan proyek gagal ini. Hal ini membuat tiang-tiang bekas proyek itu berdiri seakan menjadi pemisah jalan, menjadikan lajur kiri sebagai jalur lambat dan lajur kanan menjadi jalur cepat.
Sebagai informasi, pemotongan besi tiang monorel pertama dipotong pada pukul 09.07 WIB oleh petugas Binas Marga. Acara ini disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan jajarannya.
Namun hingga pukul 10.30 WIB ini, alat berat maupun mesin las potong hingga petugas untuk memangkas besi sudah tidak terlihat di lokasi. Menjadi tanda bahwa proses pengerjaan tidak langsung dilakukan segera setelah proses seremonial pembongkaran tiang monorel Jakarta.
Pembangunan Proyek Monorel
Sebagai informasi, pembangunan proyek monorel sendiri pertama kali dimulai pada 2004 silam. Namun pada 2008, pengembang sekaligus investor proyek ini, PT Jakarta Monorail (PT JM), tiba-tiba dikabarkan pening bukan kepalang karena masalah pendanaan.
Akibatnya proyek ini malah terhenti di tengah jalan dan tiang-tiang yang kadung dibangun malah dibiarkan mangkrak menjadi ‘monumen’ di tengah jalan. Nilai proyeknya mencapai US$ 450 juta. PT JM mengaku tidak mampu memenuhi syarat investasi US$ 144 juta.
Tidak lama setelah itu,Gubernur Jakarta Fauzi Bowo alias Foke memastikan pembangunan proyek monorel dihentikan. Pihak PT JM minta ganti biaya investasi Rp 600 miliar, namun Foke menolak dan hanya membayar sesuai rekomendasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Sejatinya proyek monorel Jakarta ini sempat ingin dihidupkan kembali oleh Joko Widodo (Jokowi) saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sayangnya rencana itu gagal dilanjutkan dan proyek ini malah dibiarkan terbengkalai hingga sekarang.






