Purbaya Ungkap Dampak Suntikan Rp 200 Triliun ke Pertumbuhan Kredit

Posted on

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal penempatan dana Rp 200 triliun di bank BUMN untuk pembiayaan kredit. Menurutnya, dampak dari penempatan dana tersebut tidak langsung instan.

“Kalau kita lihat pengalaman tahun 2020, 2021, bulan Mei kita inject uang, kredit tumbuh, saya yakin posisi undisbursed loan sama kan? Tapi tetap aja kreditnya bisa tumbuh double digit pada waktu itu,” ujar Purbaya saat konferensi pers di Kementerian Keuangan, Rabu (31/12/2025).

Selain itu, Purbaya mengatakan permintaan untuk kredit selalu ada. Ia memberikan contoh di mana ada pengusaha ingin meminjam, tapi perbankan enggan memberikan pinjaman karena merasa lebih untung menaruh uang di tempat lain.

Purbaya juga mengakui persoalan pinjaman yang belum tersalurkan (undisbursed loan) memang ada. Namun, Purbaya menilai persentase kredit yang belum ditarik ini sebenarnya stabil dan wajar dalam portofolio bank.

“Jadi, nggak betul klaim bahwa undisbursed loan tinggi. Karena itu, ditambah uang pun, nggak ada yang pinjam di perekonomian. Kalau saya lihat undisbursed loan tuh sharenya kira-kira sama terus sepanjang tahun, segitu aja dari total portfolio loan bank-nya,” tambah Purbaya.

Purbaya menambahkan ketika perekonomian mulai bergerak, permintaan kredit akan meningkat. Untuk itu, ia membuat kebijakan menambah likuiditas perbankan hingga lebih dari Rp 200 triliun di sejumlah Himbara beberapa waktu lalu.

Namun, untuk melihat dampak ke pergerakan ekonomi dibutuhkan waktu selama beberapa bulan.

“Jadi ya, problem undisbursed loan ada, tapi ketika ekonominya tumbuh, yang lain akan pinjam lebih banyak ke perbankan, harusnya dampaknya positif. Kalau kita lihat, hanya 3-4 bulan setelah uang itu masuk ke sistem, kredit mulai tumbuh dengan lebih signifikan. Economic activity overall akan tumbuh dengan signifikan 2-3 bulan setelah uang itu masuk ke sistem,” terangnya. ungkap