Di tengah derasnya arus informasi, big data, dan notifikasi tanpa henti dari berbagai platform digital, profesi public relations (PR) kerap dianggap sekadar perantara pesan antara perusahaan dan publik. Namun pengalaman lebih dari dua dekade seorang praktisi senior, Arif Mujahidin, menunjukkan fungsi PR jauh lebih kompleks. PR hari ini bukan hanya komunikator, tetapi penghubung makna, penjaga reputasi, hingga penata narasi strategis perusahaan.
Arif bukan sosok baru di dunia komunikasi Indonesia. Ia memulai kariernya sebagai wartawan di media nasional dan internasional. Pengalaman tersebut membentuk kepekaannya dalam memahami cara cerita dibangun dan diterima publik. Keterampilan itu kemudian dibawanya ke dunia corporate communications, tempat perspektif isu, sensitivitas publik, dan strategi komunikasi menjadi kunci.
Sejak bergabung dengan Danone Indonesia, Arif memimpin tim komunikasi yang bertanggung jawab mengelola reputasi perusahaan, hubungan dengan media, hingga kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Baginya, PR tidak lagi sekadar menyampaikan pesan, tapi memastikan pesan tetap relevan di kanal tradisional maupun digital.
Kiprah itu dibuktikan lewat sejumlah prestasi. Pada PR Awards 2023 yang digelar Marketing Interactive dan meliputi Asia Tenggara, Asia Selatan, serta Oseania, Danone Indonesia meraih Gold untuk kategori Best PR Campaign FMCG dan Best Covid-19 Related Campaign. Di ajang yang sama, Arif dianugerahi PR Champion of The Year (Brand) berkat kepemimpinannya dalam membangun tim yang adaptif dan berorientasi hasil di tingkat regional.
Prestasinya tak berhenti di situ. Pada ASEAN PR Award 2019 di Malaysia, program komunikasi bertajuk “Sapu Jagat” yang berfokus pada pelibatan masyarakat dalam membersihkan sampah plastik di jalur pendakian gunung berhasil meraih Best Public Relations Campaign Gold. Program tersebut melibatkan ratusan relawan dan menjadi bukti bahwa PR mampu berpadu dengan aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan.
Di dalam negeri, Arif juga masuk daftar Top 40 PR Person versi The Iconomics. Selain itu, tim yang dipimpinnya sukses meraih lima penghargaan sekaligus di Public Relations Indonesia Awards (PRIA), memperlihatkan bahwa pendekatan komunikasi yang adaptif dan terintegrasi mampu menjawab tantangan zaman.
Arif menegaskan bahwa dunia PR kini tak lepas dari perubahan teknologi dan dinamika sosial yang cepat. Media sosial hingga data analytics membuka peluang besar membangun narasi kuat, namun di saat yang sama memunculkan risiko misinformasi hingga perubahan opini publik yang dinamis.
“Melalui perjalanan panjang itu, salah satu pesan yang sering ditunjukkan kepada rekan-rekan profesinya adalah bahwa PR harus terus belajar dan beradaptasi. Era digital membawa perubahan cepat dalam cara publik menerima dan berdialog dengan organisasi. Media sosial, data analytics, dan platform digital lainnya membuka peluang besar untuk membangun cerita yang kuat, namun juga memunculkan tantangan baru seperti misinformasi, isu boikot, dan pergeseran opini publik yang dinamis. Kepekaan terhadap tren teknologi dan pemahaman konteks sosial menjadi keharusan,” kata Arif, dalam keterangan tertulis, Senin (12/1/2026).
Selain kemampuan teknis, Arif menilai jejaring lintas pemangku kepentingan mulai dari jurnalis, asosiasi profesi, akademisi, hingga pemimpin masyarakat yang menjadi faktor penting. Jaringan itu bukan hanya berguna saat krisis, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama.
Ia juga menekankan pentingnya reputasi pribadi yang otentik bagi seorang PR. Reputasi bukan sekadar penghargaan, melainkan refleksi konsistensi, integritas, dan tanggung jawab profesional yang dijalankan setiap hari.
Kisah Arif menunjukkan bahwa PR hari ini tidak hanya menjawab kebutuhan organisasi, melainkan juga berperan menghadirkan narasi konstruktif bagi masyarakat. Dengan pendekatan strategis, pemanfaatan teknologi, dan sudut pandang multiperspektif, ia menjadi contoh bagaimana fungsi komunikasi tetap relevan dan signifikan di masa depan.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.






