Maersk mengumumkan bakal kembali menggunakan jalur Laut Merah dan Terusan Suez pada bulan ini dalam pelayarannya. Setelah hampir dua tahun terganggu akibat serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal niaga.
Maersk menyatakan layanan mingguan yang menghubungkan Timur Tengah dan India dengan pantai timur Amerika Serikat (AS), yang dikenal sebagai MECL, akan menjadi layanan pertama yang kembali secara bertahap ke rute Terusan Suez. Langkah ini akan dimulai pada 26 Januari dengan pelayaran yang berangkat dari Pelabuhan Salalah di Oman.
“Keputusan ini diambil menyusul stabilisasi kondisi yang berkelanjutan di dalam dan sekitar Laut Merah, termasuk koridor Suez, serta meningkatnya stabilitas dan keandalan di kawasan tersebut,” kata Maersk dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters, Jumat (16/1/2026).
Langkah kembali menggunakan jalur tersebut lantaran salah satu kapal Maersk telah menguji rute tersebut seiring gencatan senjata di Gaza yang memunculkan harapan akan kembalinya lalu lintas normal. Satu kapal Maersk juga tercatat telah melintasi Terusan Suez pada Desember lalu.
Maersk menyatakan kembalinya ke Terusan Suez akan dilakukan secara bertahap. Rute ini dinilai mampu memangkas waktu pelayaran hingga satu minggu, yang berpotensi menurunkan biaya logistik.
Asosiasi Industri Kimia Jerman, VCI, dalam sebuah pernyataannya menyebutkan bahwa langkah Maersk sebagai sinyal positif, karena akan menekan biaya. Meskipun hal ini juga kemungkinan akan meningkatkan impor dari China.
“Kembalinya ke Terusan Suez seharusnya dapat meredakan tarif pengangkutan,” ujarnya.
Sementara itu, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd menyatakan untuk saat ini belum akan menyesuaikan operasinya di Laut Merah. Namun, juru bicara perusahaan mengatakan pihaknya terus memantau situasi dengan cermat dan bahwa langkah Maersk telah mengubah dinamika yang ada.






