Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan realisasi lifting minyak bumi pada 2025 melampaui target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebesar 605 ribu barel per hari. Keberhasilan pada 2025 menandai pembalikan tren stagnasi produksi minyak nasional yang selama ini menjadi tantangan struktural sektor migas.
Menurut Bambang, capaian tersebut merupakan kemajuan penting setelah selama bertahun-tahun realisasi lifting minyak nasional berada di bawah asumsi APBN. Capaian ini tidak terlepas dari kerja keras serta kepemimpinan Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beserta seluruh jajaran di sektor energi.
“Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, target lifting minyak APBN dapat dicapai dan dilampaui. Ini menunjukkan leadership yang kuat dari Menteri ESDM serta kerja nyata yang terukur di lapangan. Pemerintah berhasil menghadirkan perbaikan nyata dalam pengelolaan sektor hulu migas,” ujar Bambang dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Ia menjelaskan pemerintah mendorong optimalisasi lapangan eksisting, percepatan pengembangan lapangan, serta penguatan koordinasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, SKK Migas, dan kontraktor kontrak kerja sama. Langkah-langkah tersebut dinilai efektif menjaga kesinambungan produksi di tengah tantangan penurunan alamiah lapangan tua.
Selain berdampak pada produksi, Bambang menyoroti kinerja fiskal sektor ESDM yang menunjukkan peningkatan signifikan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM tercatat mengalami kenaikan hingga sekitar 180%, seiring dengan perbaikan tata kelola, optimalisasi produksi, serta penguatan pengawasan di sektor energi dan sumber daya mineral.
Dari sisi makro, capaian lifting minyak di atas target APBN dan lonjakan PNBP ESDM memberikan dampak positif terhadap penerimaan negara serta membantu mengurangi tekanan impor minyak. Kondisi ini turut memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan kredibilitas asumsi makro APBN.
Bambang mengingatkan ESDM merupakan salah satu penopang utama keuangan negara, dengan kontribusi sekitar 16% terhadap total penerimaan APBN. Oleh karena itu, peningkatan kinerja ini secara keseluruhan memiliki arti strategis bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Politisi Partai Golkar ini menyatakan bahwa capaian lifting minyak dan PNBP pada 2025 menjadi modal penting untuk mencapai target lifting minyak nasional pada tahun 2026 dan penerimaan negara.
“Dengan fondasi produksi yang lebih kuat, peningkatan PNBP yang signifikan, serta kepemimpinan yang solid di Kementerian ESDM, kami optimistis kinerja sektor hulu migas dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan dan kontribusi sektor ESDM secara keseluruhan,” tambah Bambang.






