Pemerintah berencana untuk menghidupkan kembali Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil. Hal ini karena pemerintah menilai sandang adalah bagian penting dalam kehidupan.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Menanggapi hal tersebut Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra Bambang Haryo Soekartono mengungkapkan bahwa kebutuhan manusia itu mencakup sandang, pangan, papan. Artinya, sandang harus menjadi hal pertama yang dipenuhi oleh negara dan berikutnya, baru pangan atau makanan, dan selanjutnya papan atau perumahan.
“Sandang ini sangat penting, sebagai kebutuhan dasar masyarakat, yang wajib dipenuhi oleh negara. Sesuai dengan UUD 1945 Pasar 34 Ayat 1,” kata dia dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).
Bambang mengungkapkan sesuai konstitusi, BUMN Sandang itu seharusnya tetap ada dan harus dijamin pemerintah untuk hidup.
“BUMN Sandang ini diharapkan mampu menjadi stabilisator dari ribuan industri sandang yang ada di Indonesia. Mencegah para industri itu menciptakan kartelisasi, yang menjadikan sandang di Indonesia berharga mahal,” ungkapnya lagi.
Selain itu, BUMN Sandang juga harus menjadi stabilisator pasar atau kecukupan dari market, untuk menjaga keseimbangan antara supply and demand. Selanjutnya, BUMN Sandang harus menjadi stabilisator harga, untuk memastikan harga yang berkembang di market tidak terlalu mahal, karena ada BUMN sebagai pesaing mereka.
“Terakhir, BUMN Sandang harus mampu menjadi stabilisator mutu atau kualitas,” tegasnya.
Bambang menyatakan, saat itu, Industri Sandang Nusantara (ISN) sebagai BUMN tekstil Indonesia yang didirikan tahun 1961, resmi dibubarkan oleh Pemerintah melalui PP No. 14 Tahun 2020, yang diikuti oleh RUPS Menteri BUMN. Aset-aset ISN pun saat itu dilelang.
“Ini sangat disayangkan. Tindakan mempailitkan industri sandang ini adalah tindakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, menengah, dan atas. Semua rakyat di Indonesia. Karena jaminan sandang ini penting,” katanya.
Untuk itu, ia sangat mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang membangun kembali industri sandang.
“Ini adalah satu tindakan kemanusiaan yang luar biasa bagus. Karena ini adalah satu kebutuhan yang harus direalisasikan oleh negara, pemerintah dan DPR. Jangan sampai kebodohan menutup industri sandang itu dimunculkan lagi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bambang Haryo menilai rencana roadmap untuk meningkatkan nilai ekspor dari 4 miliar Dollar Amerika menjadi 40 miliar Dollar Amerika dalam waktu 10 tahun adalah reasonable.
“Ini bisa dilakukan, jika pemerintah serius untuk melakukannya. Artinya, industri sandang yang dibangun oleh pemerintah harus disertai dengan inovasi tinggi, sehinga mampu bersaing di kancah global,” jelas dia.
Apalagi, jika industri sandang nusantara menggunakan bahan bakunya yang juga berasal dari Indonesia sendiri.
“Kapas disediakan, terus industri hulunya yang sekarang ini impor dari China sekitar 60-90% juga bisa dikurangi drastis. Ini diharapkan bisa terjadi terus, dengan didukung dengan industri-industri swasta, yang penuh dengan inovatif,” ucapnya.
Bambang Haryo pun mendorong dukungan yang lebih besar pada industri ekraf, yang memungkinkan akan munculnya produk-produk unik, yang mampu menarik minat konsumen luar negeri.
“Dukungan dari pemerintah yang sekarang ini anggarannya sangat kecil. Kita sangat mengharapkan memang ekraf ini bisa dibesarkan, sehingga ini akan membawa industri-industri spesifik dan khusus, yang tidak ada padanannya di seluruh dunia. Sehingga mampu menarik untuk konsumen luar negeri,” ucapnya lagi.
Ia pun mendorong, pemerintah juga bisa mendorong masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri. Seperti yang selama ini dipromosikan oleh Maspion, bahwa kita harus cinta produk dalam negeri.
“Jadi yang naik, tidak hanya ekspor tapi juga konsumsi dalam negeri kita. Masyarakat harus banyak menggunakan produk dalam negeri, terutama yang dihasilkan oleh industri sandang yang dibangun oleh pemerintah,” pungkasnya.






