Odong-odong yang kerap dipandang sebagai hiburan sederhana murah meriah, bagi sebagian warga justru menjadi sumber penghasilan utama di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan. Meski omzet sehari-hari tidak tetap, namun jumlah uang yang bisa dibawa pulang para sopir wahana berjalan ini tergolong cukup.
Salah satunya ada Deni, salah seorang sopir odong-odong yang sempat ditumpangi detikcom keliling kawasan sekitar Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Ia sendiri sudah bekerja sebagai sopir odong-odong sejak 2021 lalu, tak lama setelah mengundurkan diri dari pekerjaan lama di tengah pandemi.
“Dulu saya sama orang kerja, cuma karena pandemi mengundurkan diri. Dulu kerja di aksesoris sama souvenir nikahan, waktu itu sepi kan, jadi mundur,” jelasnya kepada detikcom, Selasa (13/1/2026).
Sembari berkeliling mengitari jalan dan gang-gang sekitar Kelurahan Rawa Bunga, Jatinegara yang menjadi rute odong-odong di kawasan itu, ia mengatakan sehari-hari bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000 – 500.000. Ini merupakan pemasukan bersih setelah menyisihkan modal sewa odong-odong dan bensin untuk berkeliling.
“Kalau lagi cakep bisa Rp 300.000, Rp 400.000. Pahit-pahitnya bawa Rp 100.000 lah. Bersih itu, sudah bensin, sudah kenyang lah sama makan, pulang bawa segitu,” paparnya.
“Setoran normal Rp 100.000, tapi kalau lagi sepi bisa Rp 80.000, itu setoran sehari, kalau nggak narik ya nggak bayar setoran. Bensin sekitar Rp 30.000 lah, full tangki muter-muter seharian itu,” terang Deni lagi.
Sementara untuk biaya naik odong-odong, Deni mengenakan tarif Rp 2.000 untuk anak sekolah, dan Rp 5.000 untuk dewasa. Khusus tarif dewasa ini sudah termasuk dengan balita yang biasanya turut dibawa penumpang.
“Kalau sehari-hari memang lebih banyak narik buat orang pulang-pergi saja. Kan ini banyak muter sampai masuk gang kan, jadi banyak yang naik turun depan rumah, kaya angkot saja, cuma sampai masuk ke dalam. Sabtu-Minggu baru banyak yang naik buat wira-wiri, buat hiburan lah,” jelasnya.
Menurutnya salah satu faktor utama yang menjadi penentu ramai-sepinya penumpang ini adalah cuaca. Sebab saat hujan, jumlah penumpang akan sangat sedikit. Sehingga banyak di antara mereka ikut berteduh dan berhenti narik odong-odong.
Karena hal ini jugalah saat terjadi hujan lebat seharian, banyak sopir yang tidak menarik odong-odong. Barulah di keesokan harinya saat cerah mereka ‘balas dendam’, membuat persaingan sedikit ketat.
“Hari ini lagi ramai yang narik, soalnya kemarin hujan deras banyak yang nggak narik kan. Saya juga kemarin nggak narik, makanya sekarang narik, semoga saja nggak hujan ini,” papar Deni.
Lihat juga Video ‘Momen RK Naik Odong-Odong Bareng Relawan Sapa Warga Ciracas Jaktim’:
