Demo berdarah di Iran telah memasuki hari keenam pada Jumat (2/1) kemarin. Aksi demonstrasi tersebut terus meningkat dan meluas ke berbagai wilayah seiring dengan bentrokan yang memanas antara massa dan aparat keamanan.
Melansir Al Jazeera, Sabtu (3/1/2026), aksi demo pertama kali terjadi saat para pemilik toko di Teheran menutup bisnis mereka pada hari Minggu (28/12) untuk memprotes krisis ekonomi salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia ini. Protes ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup setelah rial anjlok ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS pada akhir Desember kemarin.
Terlepas dari janji pemerintah untuk melakukan reformasi ekonomi dan upaya pemberantasan korupsi, aksi protes terus berlanjut. Hanya dalam beberapa hari gelombang protes terus meningkat, dengan demonstrasi ekonomi berubah menjadi protes politik seiring dengan menyebarnya keresahan di seluruh negeri.
Bermula dari protes tunggal soal runtuhnya ekonomi Iran oleh para pemilik toko di Pasar Besar Teheran kemudian menyebar ke 17 dari 31 provinsi di Iran pada Malam Tahun Baru. Dalam tahap ini, mahasiswa dan demonstran dari berbagai lapisan masyarakat bergabung.
Ribuan orang telah dimobilisasi di seluruh negeri dan pasukan keamanan merespons dengan keras di beberapa tempat. Hingga pada Kamis (1/1/2026), kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan tiga orang tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran di Lordegan, Iran barat daya. Tiga kematian lainnya dilaporkan di Azna dan satu lagi di Kouhdasht, keduanya di Iran tengah.
“Beberapa pengunjuk rasa mulai melemparkan batu ke gedung-gedung administrasi kota, termasuk kantor gubernur provinsi, masjid, Yayasan Martir, balai kota, dan bank,” lapor Fars tentang protes di Lordegan.
Masalah Ekonomi dan Jatuhnya Nilai Mata Uang Jadi Penyebabnya
Iran merupakan salah satu negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia. Hal ini membuat negara itu memiliki berbagai pembatasan internasional, secara langsung menyebabkan Teheran sulit mengakses pasar keuangan internasional dan aset asingnya dibekukan.
Pada hari Minggu pekan lalu, rial Iran jatuh menjadi 1,42 juta terhadap dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan nilai mata uang negara itu sebesar 56% hanya dalam enam bulan.
Anjloknya mata uang ini telah mendorong inflasi dengan harga pangan yang melonjak rata-rata 72% dibandingkan tahun lalu. Belum lagi, ketergantungan Iran pada impor memperburuk situasi dan memicu inflasi.
“Seandainya saja pemerintah, alih-alih hanya fokus pada bahan bakar, bisa menurunkan harga barang-barang lainnya,” kata sopir taksi Majid Ebrahimi kepada Al Jazeera.
“Harga produk susu telah naik enam kali lipat tahun ini dan barang-barang lainnya lebih dari 10 kali lipat,” terangnya lagi menceritakan tingginya harga kebutuhan hidup di Iran saat ini.






