Mau Punya Usaha Odong-odong Sendiri, Butuh Duit Segini Nih

Posted on

Di gang-gang sempit hingga jalan raya dekat Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, odong-odong melintas pelan mengangkut penumpang. Kendaraan hasil modifikasi ini bukan hanya menawarkan hiburan murah, tetapi juga membuka ruang ekonomi informal bagi sebagian warga.

Deni, salah satu dari sekian banyak sopir odong-odong di kawasan itu hampir setiap hari berkeliling cari penumpang. Hampir setiap sudut Kelurahan Rawa Bunga ia putari, mulai dari Jalan Jatinegara Timur I hingga IV, Jalan Kober, Jalan Bekasi Timur hingga Jalan Bekasi Barat.

“Kalau sehari-hari memang lebih banyak narik buat orang pulang-pergi saja. Kan ini banyak muter sampai masuk gang kan, jadi banyak yang naik turun depan rumah, kaya angkot saja, cuma sampai masuk ke dalam. Sabtu-Minggu baru banyak yang naik buat wira-wiri, buat hiburan lah,” jelasnya kepada detikcom, Selasa (13/1/2026).

Untuk biaya naik odong-odong, Deni mengenakan tarif Rp 2.000 untuk anak sekolah, dan Rp 5.000 untuk dewasa. Khusus tarif dewasa ini sudah termasuk dengan balita yang biasanya turut dibawa penumpang. Dari sana ia bisa membawa pulang sekitar Rp 100.000 – 400.000 sehari.

“Kalau lagi cakep bisa Rp 300.000, Rp 400.000. Pahit-pahitnya bawa Rp 100.000 lah. Bersih itu, sudah bensin, sudah kenyang lah sama makan, pulang bawa segitu,” paparnya.

Deni menjelaskan, untuk memiliki odong-odong diperlukan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya diperlukan dana paling sedikit Rp 15 juta untuk memiliki motor bebek yang sudah dimodifikasi lengkap dengan tiga gerbong odong-odong di belakangnya.

“Bikin odong-odong sekitar Rp 20an juta lah, itu sudah bagus banget. Kalau yang biasa-biasa saja, Rp 15 jutaan sudah dapat,” terangnya.

Namun untuk saat ini Deni masih menyewa harian dari bos odong-odong di Jatinegara. Dalam sehari, ia harus memberikan setoran sekitar Rp 100.000. Namun saat sedang sepi, ia bisa mendapatkan keringanan setoran jadi Rp 80.000.

Ongkos setoran ini belum termasuk bensin yang harus dibelinya secara mandiri. Dalam sehari, setidaknya ia perlu mengeluarkan Rp 30.000 sebagai modal awal narik.

“Setoran normal Rp 100.000, tapi kalau lagi sepi bisa Rp 80.000, itu setoran sehari, kalau nggak narik ya nggak bayar setoran. Bensin sekitar Rp 30.000 lah, full tangki muter-muter seharian itu,” ucapnya.

Selain dirinya, di sekitar kawasan Stasiun Jatinegara ini terdapat 55 orang yang bekerja sebagai sopir odong-odong. Banyak di antara mereka yang bekerja dengan bos pemilik odong-odong seperti Deni, dan hanya sedikit yang memiliki odong-odong sendiri.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana odong-odong tak hanya menjadi sumber kehidupan Deni saja, namun juga para sopir lainnya hingga para pemilik wahana hiburan murah berjalan itu.

“Di sini ada 55, bosnya beda-beda. Hari ini lagi ramai yang narik, soalnya kemarin hujan deras banyak yang nggak narik kan. Saya juga kemarin nggak narik, makanya sekarang narik, semoga saja nggak hujan ini,” papar Deni.

Simak Video ‘Momen RK Naik Odong-Odong Bareng Relawan Sapa Warga Ciracas Jaktim’:

punya