Ibu kota Venezuela, Caracas, mendadak sunyi dua hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah dan menculik Presiden Nicolás Maduro. Meski begitu, warga tetap keluar rumah untuk membeli kebutuhan pokok, meski harus menghadapi harga yang melonjak dan antrean panjang.
Mengutip Aljazeera, Sabtu (10/1/2026), suasana lengang yang menyelimuti Caracas kontras dengan kondisi normal kota tersebut yang biasanya ramai. Jalan-jalan utama terlihat lebih sepi, pusat perbelanjaan tak seramai biasanya, dan aktivitas warga berlangsung dengan penuh kehati-hatian di tengah ketegangan yang masih terasa.
Ketidakpastian semakin membayangi kehidupan warga sehari-hari, seiring kekhawatiran akan kemungkinan intervensi lanjutan dari Amerika Serikat. Meski otoritas setempat mengimbau agar aktivitas ekonomi tetap berjalan, banyak warga memilih membatasi mobilitas dan bersiap menghadapi skenario terburuk.
Di sejumlah kawasan, beberapa toko memilih menutup usaha sementara, sementara toko-toko yang tetap buka justru dipadati pembeli. Banyak keluarga mulai menimbun kebutuhan dasar, terutama bahan pangan tahan lama, untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Kondisi itu terlihat jelas di pasar sentral Quinta Crespo, salah satu pusat perdagangan utama di Caracas. Sejumlah pedagang menutup kios mereka karena khawatir akan kerusuhan dan penjarahan.
Di kios yang masih beroperasi, antrean pembeli mengular hingga 10 orang atau lebih, meski harus berdiri lama di bawah terik matahari. Aparat Polisi Nasional Bolivarian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk menjaga situasi tetap kondusif.
Sejumlah warga mengaku fokus membeli barang-barang yang tidak mudah rusak atau basi, seperti tepung jagung, beras, dan makanan kaleng.
“Saya mencari kebutuhan dasar, melihat situasi yang sedang dihadapi negara ini,” ujar Carlos Godoy (45), warga distrik Caricuao di bagian barat Caracas.
Godoy mengatakan salah satu barang dengan kenaikan harga paling mencolok adalah susu bubuk, yang kini dijual sekitar US$16 per kilogram. Kenaikan harga juga terjadi pada berbagai kebutuhan lain, termasuk produk kebersihan rumah tangga.
Pembeli lain, Betzerpa Ramírez, mengaku tetap berusaha tenang meski serangan terjadi pada Sabtu dini hari. Ia tidak merasa perlu menimbun makanan, namun mengakui adanya lonjakan harga. “Barang-barang kebersihan sekarang lebih mahal, bahkan lebih mahal daripada makanan,” katanya.
Situasi serupa juga terasa di pusat perbelanjaan Sambil, salah satu mal tersibuk di Caracas. Alexandra Arismendi, pegawai toko ponsel, mengeluhkan lonjakan harga telur yang dinilainya berlebihan. “Harga sudah tinggi. Satu karton telur dijual US$ 10, itu jauh dari harga normal,” ujarnya.
Rekannya, Maria Gabriela (23), mengatakan jumlah pengunjung mal menurun drastis karena banyak warga memilih tetap di rumah demi menghindari potensi kerusuhan. Mal yang biasanya ramai kini tampak hampir kosong. “Hampir tidak ada aktivitas seperti biasa. Ini salah satu hari paling aneh dalam beberapa bulan terakhir,” katanya.
Selama lebih dari satu dekade, warga Venezuela telah terbiasa menghadapi kenaikan harga yang tajam dan kelangkaan barang. Para pengamat menilai kondisi ini merupakan dampak dari kombinasi korupsi, salah urus ekonomi, serta sanksi Amerika Serikat yang menekan perekonomian negara tersebut. Inflasi Venezuela sempat menembus 130.000% pada 2018, sebelum pandemi COVID-19 kembali memperparah situasi.
Hingga kini, belum jelas kapan kehidupan di Venezuela akan kembali normal pascaserangan AS. Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan gelombang serangan lanjutan jika tuntutan Washington tidak dipenuhi.
Sementara itu, pemerintah Venezuela menetapkan status darurat nasional dan menyatakan akan memburu pihak-pihak yang dianggap terlibat atau mendukung serangan bersenjata Amerika Serikat.






