Di berbagai daerah, UMKM yang bergerak di bidang kopi dan minuman tradisional kerap tumbuh dari akar budaya dan kearifan lokal. Bagi para pelaku UMKM tersebut, selain menjalankan usaha yang berorientasi keuntungan, ada nilai sosial yang turut mereka emban, mulai dari pemberdayaan komunitas hingga pelestarian bahan baku lokal.
Sejalan dengan nilai-nilai di atas, platform pinjaman daring AdaKami kembali hadir dengan program #UsahaBarengAdaKami yang menyediakan dukungan permodalan bagi para UMKM kopi dan minuman tradisional. Program ini ditujukan untuk membantu para pelaku usaha meningkatkan kapasitas usaha, sekaligus memperluas dampak positifnya bagi komunitas lokal di sekitarnya.
“Kami berharap program ini dapat mendukung pelaku UMKM untuk terus mengembangkan usahanya dan membawa manfaat yang semakin luas bagi komunitas sekitar,” ujar Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss dala keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026)
Ada sejumlah UMKM yang telah merasakan manfaat tersebut, salah satunya Akurasa. Akurasa sendiri merupakan kedai kopi yang berada di Pasar Santa, Jakarta yang dikonsep secara unik.
Pemilik Akurasa, Adi Yudistira mendirikan usahanya dengan menggandeng teman-teman tunarungu dan turut mempekerjakan mereka di kedai kopi miliknya.
Menurut Adi, langkah itu dilakukan untuk memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang serta bisa menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen. Konsumen yang membeli kopinya bisa belajar bahasa isyarat secara langsung.
“Di Akurasa, selain menyediakan kopi dan kudapan istimewa, kita juga bisa belajar bahasa isyarat dengan teman-teman tuli. Kami menyebut Akurasa sebagai tempat, di mana rasa bertemu cerita,” kata Adi dikutip dari Channel YouTube AdaKami, Kamis (15/1/2026).
Selain itu, Adi mengatakan dukungan permodalan yang diberikan AdaKami dimanfaatkan untuk mendukung operasional bisnis Akurasa.
“Seiring berjalannya waktu, alat-alat juga tidak lagi bisa mendukung proses operasional dengan baik, sehingga aktivitas kami pun mulai terdampak,” ujarnya.
“Untungnya, kami mendapatkan permodalan tambahan dari program #UsahabarengAdaKami untuk melancarkan kembali usaha dan kegiatan komunitas,” sambungnya.
Cerita lain pun turut dibagikan oleh Pemilik Kopi Moka Menoreh, Marwiyah. Marwiyah mengatakan kopi memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu terlihat dari Kopi Moka Menoreh yang sudah membina sekitar delapan kelompok tani dengan total 130-140 petani.
“Saya mendirikan Kopi Menoreh sejak 2007 untuk memetakan wisata edukasi kopi untuk pengembangan kegiatan kami. Biasanya kami hanya kebun, kemudian produksi, olahan pasca panen produksi tapi kami kembangkan untuk wisata. Nah, itu salah satunya untuk memetakan Kopi Menoreh agar bisa masuk ke peta kopi dunia,” ungkapnya.
Marwiyah bercerita pengunjung yang mendatangi kedai kopi miliknya pun beragam mulai dari dalam negeri hingga luar negeri. Bahkan pada musim-musim tertentu, kedainya mengalami lonjakan pengunjung yang cukup besar.
“Musim-musim tertentu April dan Mei biasanya lebih banyak datang ke kami, ada (pengunjung dari) Amerika, Etiopia, Italia, Jerman, dan Jepang. Kalau dihitung ada sekitar 15 negara,” ungkapnya. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, Kopi Menoreh memerlukan peralatan yang lebih modern.
“Dengan banyaknya kunjungan, kita butuh alat-alat yang lebih modern. Terutama untuk melayani kunjungan yang lebih besar. Saya senang sekali dengan adanya #UsahabarengAdaKami, kami dapat bantuan. Tentunya kami akan dapat meningkatkan pelayanan untuk tamu-tamu kami dan kegiatan kami bersama anggota kelompok ataupun warga sekitar,” ujar Marwiyah.
Hal senada pun turut diungkapkan oleh Pemilik Kedai Kopi Selarong Ghea Vickury Bueney.
Kopi Selarong bekerja sama dengan para petani lokal dalam pengadaan bahan baku. Kedai ini menggunakan biji kopi dan rempah khas dari berbagai daerah seperti Merapi, Menoreh, Magelang, hingga Dampit. Setiap bulannya, Kopi Selarong mengolah sekitar 10-15 kilogram biji kopi pilihan.
Dukungan dari program #UsahaBarengAdaKami memungkinkan mereka untuk meningkatkan kapasitas peralatan dan kinerja operasional, yang diharapkan memberi dampak positif untuk komunitas sekitar.
“Dengan adanya alat baru ini kita berharap bisa lebih banyak bekerja sama dengan petani lokal. Sehingga dapat mempromosikan hasil pertanian ke nasional hingga internasional. Terima kasih AdaKami atas dukungannya dalam menyalakan mimpi Kopi Selarong,” kata Ghea.
UMKM lain yang turut merasakan manfaat program #UsahabarengAdaKami yakni Home of Kawa. Home of Kawa adalah usaha pelestarian minuman tradisional khas Minangkabau yang dijalankan oleh Uni Muih, pengrajin kawa asal Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Usaha ini meneruskan tradisi keluarga selama lima generasi sejak era kolonial Belanda sekitar 1935.
Selama bertahun-tahun, proses produksi dilakukan secara sederhana di rumah dengan keterbatasan ruang, hingga dukungan permodalan dari program #UsahaBarengAdaKami memungkinkan perbaikan area pengolahan agar kegiatan produksi lebih efisien.
Lihat juga Video Dari Ulos hingga Kopi Lintong, BI Sibolga Dorong UMKM Go Global






