Penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), akan menetapkan metodologi penghitungan free float baru untuk emiten-emiten asal Indonesia. Perubahan tersebut rencananya akan diumumkan sebelum tanggal 30 Januari mendatang.
Co-Founder PasarDana sekaligus Praktisi Pasar Modal Hans Kwee, menyebut isu ini menjadi salah satu sentimen terhadap pergerakan Indeks Harga Sama Gabungan (IHSG) beberapa hari terakhir. Hal ini terjadi lantaran banyak spekulasi pelaku pasar yang mengantisipasi potensi perubahan metodologi MSCI.
“Ada banyak spekulasi yang mengatakan investor asing dan beberapa pelaku pasar mengantisipasi potensi perubahan perhitungan MSCI, sehingga orang jualan di pasar,” ungkap Hans Kwee dalam acara Edukasi Wartawan secara virtual, Jumat (23/1/2026).
Dia menjelaskan koreksi indeks saham di Indonesia terjadi lantaran spekulasi tersebut melemahkan emiten-emiten big chip dan konglomerasi. Padahal kekhawatiran MSCI terkait manipulasi free float tidak tepat jika diterapkan pada saham-saham besar Indonesia.
“Sebenarnya niat dari MSCI mengatakan khawatir ada manipulasi pada free float kita, itu nggak tercapai. Jadi, kan tidak ada kita berpikir bahwa saham-saham gede kita, BCA, Mandiri, segala macam, itu tidak sama sekali melakukan rekayasa terhadap free float-nya. Even saham konglomerat kita pun, dia memang naik kencang, tapi kalau kita lihat, banyak ritel yang masuk ke dalam sana,” papar Hans Kwee.
Hans Kwee menilai evaluasi MSCI seharusnya tidak mengubah aturan free float bagi saham Indonesia yang sudah masuk dalam indeksnya. Penyesuaian kriteria dinilai lebih tepat diterapkan untuk saham-saham yang potensial masuk pada periode selanjutnya.
Dia menambahkan, MSCI tidak menggunakan pendekatan fundamental dalam memasukan emiten-emiten Indonesia ke dalam indeks sahamnya. Menurutnya, MSCI lebih mengutamakan besaran saham beredar, tingkat free float, serta likuiditas transaksi.
“Jadi, harusnya evaluasi MSCI itu tidak merubah aturan free float terhadap Indonesia. Mungkin ke depan, saham yang akan masuk ke sana, kriteria-nya akan ditambahkan. Tapi yang existing sekarang, kalau kita lihat, saat ini memang market kita koreksi,” pungkas Hans Kwee.
Sebagai informasi, beberapa bulan lalu MSCI meminta masukan kepada para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
MSCI juga mengusulkan agar estimasi free float ditentukan berdasarkan nilai terendah. MCSI mengusulkan free float dihitung menggunakan data kepemilikan yang dilaporkan emiten dalam keterbukaan informasi, reports, dan press release, berdasarkan metodologi MSCI.
Kemudian, free float yang diestimasikan berdasarkan data KSEI, yakni dengan mengklasifikasikan saham script, kepemilikan korporasi, dan others sebagai non-free float. Secara alternatif, MSCI mengusulkan estimasi free float berdasarkan data KSEI, dengan mengklasifikasikan saham script dan kepemilikan korporasi sebagai non-free float.
“Sebagai catatan, wacana ini belum pasti diberlakukan dan masih menunggu masukan dari para pelaku pasar. MSCI akan menerima masukan hingga 31 Desember 2025, dengan hasil dari konsultasi akan diumumkan sebelum 30 Januari 2026. Jika proposal tersebut diterapkan, perubahannya akan diimplementasikan pada review indeks bulan Mei 2026,” tulis laporan Stockbit beberapa bulan lalu.






