Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) mengungkapkan dua masalah utama yang dihadapi industri keramik nasional dan membutuhkan perhatian serius pemerintah. Pertama, masalah pasokan gas industri.
“ASAKI mencatat sejumlah tantangan krusial yang membutuhkan perhatian serius pemerintah antara lain krisis pasokan gas industri,” ujar Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
Edy menjelaskan industri keramik di Jawa Barat hanya menerima sekitar 60% pasokan gas, sementara Jawa Timur 50-55%, sesuai HGBT US$ 7/MMBTU. Kekurangannya disebut harus ditebus dengan harga surcharge mahal hingga US$ 15,4/MMBTU.
“Sehingga menekan daya saing dan utilisasi produksi,” ucapnya.
Kedua, lonjakan impor keramik. Berdasarkan data ASAKI sepanjang 2025, impor keramik melonjak drastis, India naik 55%, Vietnam 32%, dan Malaysia melonjak 210%.
“Kami akan bekerja sama dengan KADI untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap India pada semester I 2025, serta menelusuri dugaan transhipment produk China melalui Malaysia,” terang Edy.
Terlepas dari tantangan tersebut, ASAKI menargetkan utilisasi produksi mencapai 80%, tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Edy mengatakan optimisme itu didorong oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang pro-industri, peningkatan kapasitas produksi, serta prospek pertumbuhan konsumsi domestik yang masih sangat besar.
“Target ini realistis dengan catatan dukungan kebijakan pemerintah tetap konsisten dan persoalan struktural industri segera diselesaikan,” kata Edy.
ASAKI menilai kebangkitan industri keramik tak lepas dari berbagai kebijakan strategis pemerintah antara lain Penerapan Bea Masuk Antidumping dan Safeguard Keramik, SNI wajib untuk produk keramik, program pembangunan 3 juta unit rumah.
Kemudian, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sektor properti, penurunan suku bunga perbankan, serta Program FLPP sebanyak 350.000 unit rumah. Kebijakan tersebut diyakini mampu mendongkrak permintaan keramik domestik secara signifikan.
ASAKI memproyeksi kapasitas terpasang keramik pada 2026 akan menyentuh 672 juta meter persegi per tahun dan kembali meningkat pada 2027 mencapai 701 juta meter persegi per tahun. Sedangkan di 2029 mencapai 720 juta meter persegi per tahun.
Meski demikian, tingkat konsumsi keramik per kapita Indonesia masih relatif rendah. Pada 2029 konsumsi diperkirakan baru mencapai 2,5 meter persegi per kapita, jauh tertinggal dibandingkan China & Vietnam ±4 meter persegi per kapita, serta Malaysia & Thailand 3-3,5 meter persegi per kapita.
“Artinya, ruang ekspansi industri keramik nasional masih sangat besar,” jelas Edy.
