Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencatatkan sejarah baru. Nilai saham gabungan Indonesia ini tercatat sudah masuk angka psikologis yang ditunggu-tunggu, yakni level 9.000.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Fenomena IHSG cetak rekor ini ATH bukan sekadar angka di bursa saham, melainkan refleksi dari kombinasi sentimen positif investor dan kinerja emiten berkapitalisasi besar, serta pergerakan sektor-sektor utama lainnya yang saling menopang.
Pada akhirnya, pencapaian ATH seringkali menjadi penanda optimisme dan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi ke depan. Namun, penting untuk diingat bahwa ini bukan jaminan akan terus naik tanpa koreksi.
Secara umum, kenaikan IHSG tidak akan berpengaruh besar pada isi kantong maupun ‘uang saku harian’ masyarakat. Terlebih jika mereka tak memiliki instrumen investasi berupa reksa dana saham sama sekali.
Namun bagi mereka yang berinvestasi di reksa dana saham, hal ini menjadi lain cerita. Sebab menurut situs resmi platform investasi Ajaib, hubungan IHSG dan reksa dana saham memiliki korelasi positif.
Dengan alokasi aset sebagian besar pada saham, naik turunnya IHSG khususnya untuk saham-saham yang menjadi portofolio reksa dana sangat berdampak besar pada kinerja reksa dana saham.
Ketika IHSG naik dan mayoritas saham-saham yang menjadi portofolio reksa dana juga naik, maka kinerja reksa dana saham juga akan otomatis naik. Sementara, saat IHSG turun dan mayoritas saham-saham yang menjadi portofolio reksa dana turun, maka kinerja reksa dana saham juga akan ikut turun.
Namun, ada juga kemungkinan lain dari pergerakan IHSG pada reksa dana. Naik atau turunnya IHSG bisa saja tidak terlalu berpengaruh besar terhadap kinerja reksa dana, ketika portofolio saham yang ada di reksa dana berlawanan dengan tren pasar.
Walaupun IHSG menjadi indikator pasar khususnya bagi pasar saham, namun yang perlu investor tahu adalah investor cukup fokus terhadap pergerakan harga saham-saham yang menjadi portofolio reksa dana dalam menganalisa kinerja reksa dana saham.
Karena setiap bobot saham di reksa dana saham berbeda-beda tergantung kebijakan dan strategi investasi dari Manajer Investasi (MI). Sehingga, tingkat risiko reksa dana saham termasuk agresif dan sangat sensitif dengan pergerakan IHSG.
Selain pengaruh IHSG yang berdampak besar bagi reksa dana saham, sebenarnya masih ada faktor non indeks saham yang dapat mempengaruhi kinerja reksa dana secara umum. Kondisi ini tentu secara langsung dapat mempengaruhi imbal hasil dari investasi yang dilakukan melalui reksa dana saham tadi.
Secara umum, berikut faktor lain yang mempengaruhi kinerja reksa dana:
1. Manajemen Aset
Hal-hal yang termasuk manajemen aset dalam reksa dana adalah diversifikasi aset dan strategi investasi. Melalui manajemen aset yang baik dalam pengelolaan reksa dana, sebuah Manajer Investasi (MI) bisa memberikan tingkat return yang maksimal bagi investor, tanpa mengesampingkan risiko investasi bagi investor.
2. Kondisi Makroekonomi
Kinerja reksa dana sangat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, hingga stabilitas ekonomi. Inflasi yang tinggi di suatu negara akan mempengaruhi seberapa besar cuan investasi reksa dana investor.
Bahkan, tidak menutup kemungkinan return reksa dana bisa kalah melawan inflasi yang sedang tinggi-tingginya.
3. Suku Bunga
Suku bunga yang tinggi dapat berdampak beragam bagi produk reksa dana. Contohnya adalah reksa dana pasar uang, naiknya suku bunga akan menguntungkan bagi reksa dana pasar uang karena membuat imbal hasil deposito naik.
Sementara untuk reksa dana campuran dan reksa dana pendapatan tetap, ketika suku bunga naik maka harga obligasi turun. Di pasar saham, suku bunga tinggi bisa menekan laba perusahaan karena menurunnya daya beli di masyarakat dan emiten mengalami kesulitan untuk mengakses pinjaman dengan bunga rendah. Alhasil, kinerja reksa dana saham dapat menurun.
4. Strategi Investasi
Strategi investasi investor dalam berinvestasi di reksa dana juga dapat mempengaruhi kinerja reksa dana. Misalnya penggunaan metode investasi lump sum lebih cocok untuk jenis reksa dana yang cenderung punya grafik harga selalu naik.
Simak Video ‘Sempat Diprediksi Tembus Level 9.000, Target IHSG Gagal Total!’:






