Hati-hati! Utang ke Teman Bisa Lebih Ngeri dari Pinjol baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Banyak orang mengira sumber masalah keuangan terbesar datang dari pinjaman online (pinjol). Padahal, data justru menunjukkan utang ke teman atau keluarga tak kalah berisiko, bahkan bisa lebih berbahaya karena dianggap sepele.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Berdasarkan OCBC Financial Fitness Index 2025, dikutip Sabtu (10/1/2026), sebanyak 39% masyarakat Indonesia masih sering meminjam uang ke orang terdekat untuk menutup kebutuhan gaya hidup. Fenomena ini menunjukkan masih kuatnya pola ‘lebih besar pasak daripada tiang’, di mana pengeluaran tak seimbang dengan pemasukan.

Utang ke teman kerap terasa aman karena tanpa bunga dan tanpa penagihan ketat. Namun justru di situlah masalahnya. Karena tidak ada tenggat yang jelas, banyak orang menunda pembayaran, menumpuk pinjaman, hingga akhirnya hubungan sosial yang jadi taruhannya.

Masalah lain datang dari pola gaji yang langsung habis. Data yang sama mencatat 14% masyarakat memiliki pengeluaran lebih besar dari pendapatan. Kondisi ini membuat seseorang sulit menabung, apalagi menyiapkan dana darurat, sehingga ketika ada kebutuhan mendadak, pilihan tercepat adalah kembali meminjam ke orang terdekat.

Kartu kredit pun sering menjadi solusi semu. Sebanyak 56% responden hanya membayar tagihan minimum. Kebiasaan ini membuat utang berbunga terus menggunung, sementara arus kas bulanan makin tertekan. Pada akhirnya, pinjam ke teman kembali jadi jalan keluar jangka pendek.

Tekanan sosial juga berperan besar. Sekitar 76% responden mengaku menghabiskan uang demi mengikuti gaya hidup lingkungan, mulai dari nongkrong, liburan, hingga belanja. Demi tidak ketinggalan, banyak yang rela “nombok” dengan berutang, meski kondisi keuangan sebenarnya tidak memungkinkan.

Di sisi lain, godaan cuan instan juga memperparah situasi. Sekitar 10% masyarakat tercatat melakukan spekulasi berlebihan demi hasil cepat. Ketika hasil tak sesuai harapan, lubang keuangan makin dalam dan kembali ditutup dengan pinjaman, termasuk dari teman atau keluarga.

Berbeda dengan pinjol yang jelas bunganya, utang ke teman membawa risiko sosial dan psikologis. Salah kelola sedikit saja, bukan hanya dompet yang bermasalah, tapi juga kepercayaan dan hubungan jangka panjang.

Karena itu, sebelum memutuskan meminjam ke orang terdekat, penting untuk menata kembali arus kas, mengendalikan gaya hidup, dan membangun dana darurat. Tanpa perbaikan di akar masalah, utang-baik ke pinjol maupun ke teman-akan terus berulang dan menggerogoti kondisi finansial.