Harga Minyak Bisa Mendidih Usai Trump Tangkap Presiden Venezuela Maduro

Posted on

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Operasi mendadak ini bisa meningkatkan harga minyak utamanya bensin dan inflasi di AS.

Harga minyak penting bagi ekonomi AS karena mempengaruhi tagihan bahan bakar dan dapat berpengaruh terhadap data inflasi yang dipantau oleh Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed). Minyak mentah Brent ditutup pada US$ 60,75 per barel pada Jumat (2/1) dan West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir pada US$ 57,32.

Pasokan minyak Venezuela sudah berubah setelah Trump mengumumkan blokade kapal tanker minyak yang masuk dan keluar negara itu pada Desember 2025 dan AS menyita dua kargo minyak Venezuela. Langkah-langkah tersebut memangkas ekspor Venezuela menjadi sekitar setengah dari 950.000 barel per hari (bpd).

“Mengingat betapa cepatnya hal ini terjadi, pasar minyak mungkin menjadi satu-satunya pasar yang merespons,” kata Brian Jacobsen, Kepala Ahli Strategi Ekonomi di Annex Wealth Management, dikutip dari Techstock2, Minggu (4/1/2026).

Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan di SPBU cenderung menekan anggaran rumah tangga dan dapat berdampak pada biaya barang yang diangkut melalui truk, kereta api dan udara.

Bahan bakar juga merupakan biaya utama bagi maskapai penerbangan dan perusahaan logistik sehingga memengaruhi segala hal mulai dari tarif pengiriman hingga biaya pengiriman. Bagi para produsen, biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya operasional.

Di luar bahan bakar, kejadian ini menambah guncangan geopolitik baru. Lonjakan ketidakpastian ini bisa menyebabkan perusahaan menunda perekrutan dan investasi hingga biaya dan permintaan lainnya.

Sebagai informasi, Venezuela memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak atau sekitar 17% dari total global. Hanya saja produksi terus menurun yakni rata-rata sekitar 1,1 juta barel per hari tahun lalu, setelah bertahun-tahun salah urus, kurangnya investasi dan sanksi AS.

Analis mengatakan perubahan rezim yang sesungguhnya dapat membawa lebih banyak minyak ke pasar, tetapi produksi akan membutuhkan waktu untuk pulih dan transisi paksa jarang menstabilkan pasokan dengan cepat.

Saat ini China menjadi pembeli utama minyak mentah Venezuela dan Venezuela berutang sekitar US$ 10 miliar kepada China, menurut laporan Reuters. Untuk saat ini, para pedagang akan fokus pada bagaimana pasar minyak dan bahan bakar bereaksi.

“Pergerakan yang berkelanjutan juga akan mempengaruhi ekspektasi inflasi dan prospek suku bunga,” imbuhnya.