Fit & Proper Test Calon Deputi Gubernur BI, Dicky Ungkap Tantangan Ekonomi 8%

Posted on

Komisi XI DPR menggelar uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dicky Kartikoyono hari ini, Senin (26/1/2026). Uji kelayakan ini dipimpin oleh Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun.

Setalah membuka rapat, Misbakhun menjelaskan agenda dan mekanisme pelaksanaan uji kelayakan tersebut. Dalam uji kelayakan ini, Dicky diberikan waktu sekitar 15-20 menit untuk mempresentasikan visi-misinya.

Usai melakukan pemaparan, kemudian dilanjutkan dengan adanya pertanyaan dari anggota DPR Komisi XI ke Dicky.

“Calon yang kita uji hari ini yaitu Dicky sesuai dengan usulan dan penugasan kepada Komisi XI. Untuk itu saya beri kesempatan kepada saudara Dicky untuk melakukan presentasi antara 15 sampai 20 menit. Nanti ada 10 menit pertanyaan dari masing-masing fraksi dan berikutnya nanti akan saya berikan kesempatan untuk menyampaikan paparannya,” ujar Misbakhun.

Setelah dipersilahkan Misbakhun, dalam paparannya, Dicky menyampaikan visi-misi yang bertajuk mengukir sejarah digital untuk Indonesia emas. Visi-misi ini kata Dicky merupakan kontribusikan untuk menuju Asta Cita pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan yakni mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8%.

Ia mengibaratkan perekonomian nasional sebagai sebuah rumah besar yang membutuhkan fondasi kuat agar bisa memberikan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau rumah besar tentu pondasinya harus kuat pondasi itu adalah stabilitas kita harus juga dulu stabilitas itu kemudian kita bangun di atasnya dengan pilar-pilar ketahanan yang kuat untuk memberikan daya tahan terhadap berbagai upaya kita mendorong pertumbuhan ekonomi, tanpa daya tahan rumah besar seperti rumah kartu,” terang Dicky.

Dicky menyampaikan selama kurang dalam sembilan tahun terakhir, pertumbuhan transaksi keuangan digital meningkat pesat, termasuk sejak diluncurkannya QRIS pada 2009 dan BI Fast. Ia menyampaikan fasilitas ini telah memfasilitasi transaksi mencapai Rp 1,6 kuadriliun.

Meski begitu, dalam digitalisasi ini terdapat tantangan yang berat baik dalam maupun luar negeri. Dari luar negeri, ia menyoroti risiko geopolitik, polarisasi global, hingga kebijakan tarif Amerika Serikat yang berpotensi menghambat ekspor.

Sementara dari dalam negeri, tantangan mencakup ketimpangan infrastruktur digital, kualitas tenaga kerja, risiko siber, hingga melemahnya daya beli masyarakat.

“Jawaban dari tantangan ini ada pada upaya kita menegakkan pilar digitalisasi sebagai salah satu game Changer kita lihat sejak 5 tahun terakhir di mana digitalisasi kita mulai dengan QRIS,” jelas Dicky.

“Kami di Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan digital ini akan bisa mencapai hingga Rp 147,3 miliar setelah dalam lima tahun terkahir tumbuh Rp 37 miliar. Potensinya ada di kemampuan dalam negeri kita tentunya kita lihat teknologi dan kemampuan dari inovasi pengguna internet kita yang bertumbuh dan tentunya bonus demografi,” tambahnya.

Dalam visinya, Dicky menekankan tiga misi utama di bidang sistem pembayaran, yakni membangun fondasi ekonomi digital yang tangguh dan efisien, mengembangkan ekosistem digital yang aman dan inovatif, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berdaulat.

Dari hal tersebut, Dicky bicara soal pentingnya strategi yang ada untuk dikolaborasikan guna dapat mencapai target yang ada dalam Asta Cita Presiden Prabowo. Ia menekankan sektor keuangan agar memiliki tata kelola yang baik.

Selain itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mengelola pendapatan dan belanja secara lebih transparan dan efisien melalui digitalisasi. Menurut Dicky, optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD), retribusi daerah, hingga belanja pemerintah dapat dilakukan apabila seluruh transaksi digitalisasi dan terintegrasi dalam satu ekosistem.

“Selanjutnya, visi kami, kami tuangkan dalam misi-misi dalam membangun ekosistem digital yang berlandaskan infrastruktur sistem pembayaran. Fondasinya adalah infrastruktur yang par excellence, baik di Bank Indonesia maupun di industri. Tengahnya ini menyimpan kekuatan yang luar biasa dalam pengelolaan ekonomi yaitu data. Data is a new oil, new gold ketika kita dorong semua digitalisasi. Transaksi akan bisa kita tangkap dengan clear, baik secara sektoral, kita lihat spasial, pelaku industri, secara granular,” papar Dicky..

Kemudian, Visi kedua yang dijelaskan Dicky ialah membangun adanya pusat inovasi digital Indonesia untuk para digital talent Indonesia. Harapannya, agar adanya pertumbuhan ekonomi secara optimal.

“Ide kami yang ketiga, ini terkait dengan Pemda. Saat ini Pemda kita 91,8% sudah digital. Dari 546, 501 sudah mempunyai kemampuan digital,” katanya.