Emas merupakan salah satu instrumen investasi yang paling banyak dilirik, terlebih saat terjadi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Semakin tinggi ketidakpastian, semakin tinggi harga emas naik.
Terakhir harga emas Antam sempat mencapai harga tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH) pada Sabtu (27/12) kemarin. Saat itu harga logam mulia Antam naik sebesar Rp 16.000 per gram menjadi Rp 2.605.000 per gram.
Dengan harga emas setinggi ini, lebih baik beli sekarang atau menunggu nanti saat turun?
Perencana Keuangan Andy Nugroho menyarankan untuk tetap membeli emas terlepas dari harganya saat ini jika tujuannya adalah untuk investasi jangka panjang. Karena meski saat ini harga emas sudah mencapai level tertinggi, tidak ada jaminan jika harga emas ke depan akan turun.
Bahkan menurutnya meski harga emas cukup fluktuatif, nilai logam mulia yang satu ini masih cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga aman untuk investasi jangka panjang atau sangat panjang.
Meski begitu, Andy sangat mewajarkan jika tingginya harga emas ini menjadi salah satu pertimbangan utama untuk menahan dana investasi atau mencari alternatif selain emas. Namun jika tujuannya untuk jangka panjang, menurutnya tidak ada masalah untuk membeli emas saat ini.
“Menurut saya hal wajar. Artinya memang kita mesti memahami bahwa namanya investasi itu nggak ada yang bisa dipastikan ke depan satu menit lagi bahkan satu detik lagi kondisinya seperti apa kita nggak pernah tahu. Bisa tiba-tiba naik tinggi, bisa tiba-tiba naik bisa tiba-tiba turun drastis,” ucap Andy kepada detikcom beberapa waktu lalu.
Menurutnya yang terpenting adalah bagaimana masyarakat tahu betul tujuan dari investasi yang dilakukannya serta risikonya. Untuk itu ia menyarankan untuk para investor terutama mereka yang baru mulai untuk menambah literasi keuangan dan kondisi ekonomi saat ini.
“Jadi memang tapi juga jangan FOMO juga sih gitu kan. Kadang ada orang yang kemudian justru menjadi merugi ketika ketika FOMO kan. Artinya kita harus punya prinsip sendiri dan jangan FOMO, baik FOMO beli ataupun FOMO jual,” terangnya.
Perencana keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari mengatakan logam mulia emas memang cenderung selalu naik setiap tahunnya. Sehingga menjadi salah satu produk investasi yang bagus untuk investasi jangka panjang.
Karena hal ini jugalah saat harga emas sedang tinggi-tingginya seperti sekarang ini, ia tetap menyarankan masyarakat untuk berinvestasi emas. Terlebih jika investasi itu dimaksudkan untuk jangka panjang atau sangat panjang.
Sebaliknya yang ia tidak sarankan adalah saat membeli emas hanya untuk investasi jangka pendek. Sebab sedari awal, emas adalah salah satu instrumen simpanan jangka panjang.
“Kalau melihat history ke belakangnya, untuk jangka panjang harga emas cenderung selalu naik dan bisa mengalahkan inflasi. jadi jangan tunggu lagi, mulai sekarang investasi emas, walaupun kecil nggak apa,” katanya.
Alternatif Deposito Aman
Selain emas, deposito merupakan salah satu instrumen investasi yang paling aman untuk memarkirkan uang dan bisa mendapatkan imbal hasil yang lumayan. Risiko rendah dan proses pencairan yang mudah, membuat banyak orang menyimpan uang di tabungan berjangka itu.
Untuk tingkat keamanan, deposito memang instrumen paling aman dan berisiko rendah dibandingkan dengan jenis investasi lain seperti reksa dana atau saham. Namun, imbal hasil yang didapatkan memang lebih kecil dibandingkan instrumen investasi lainnya.
Di luar itu, jika memang ingin menyimpan uang dan mendapatkan imbal hasil menarik, bisa melirik obligasi ritel atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN/Sukuk Negara). Imbal hasil obligasi ritel bisa di atas 4-5% per tahun.
Setelah itu, jika sudah berani dan ingin mencoba peruntungan imbal hasil yang lebih baik bisa mulai masuk ke reksa dana tapi bisa jenis pasar uang atau pendapatan tetap, jangan langsung kategori saham.






