Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memproyeksikan produksi garam nasional pada 2026 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Bahkan produksi garam tahun ini diperkirakan tak beranjak dari 1 juta ton.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara mengatakan faktor alam masih menjadi tantangan utama bagi para petambak garam di tanah air. Curah hujan yang diprediksi masih tinggi sepanjang 2026 menjadi ganjalan utama dalam produksi garam.
“Kurang lebih sama perkiraanya (dengan tahun lalu), karena suasananya juga mirip-mirip,” ujar Koswara saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Produksi garam memang bergantung pada panas matahari. Sayangnya, Koswara menyebut ramalan cuaca untuk 2026 menunjukkan bahwa intensitas hujan masih akan sering terjadi, mirip dengan kondisi pada 2025.
Saat ditanya apakah produksi garam masih akan tertahan di angka 1 juta ton, Koswara mengamini hal tersebut.
“Kurang lebih sama (1 juta ton), karena perkiranya 2026 juga hujan ya,” tambahnya.
Sebelumnya, Direktur Sumber Daya Kelautan KKP Frista Yorhanita produksi garam, dari petambak rakyat maupun pelaku usaha mencapai 1 juta ton hingga minggu kedua Desember 2025. Ia mengakui terjadi penurunan produksi garam tahun ini.
“Kita juga mencatat capaian produksi dari tambak rakyat saat ini maupun tambak rakyat maupun pelaku usaha itu untuk tahun ini produksi jangka sekitar 1 juta ton di tahun ini. Jadi, memang ini mengalami penurunan,” ujar Frista saat konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2025).
Frista menerangkan penurunan ini terjadi lantaran faktor cuaca yang mayoritas hujan sehingga mempengaruhi proses pembentukan garam. “Karena memang faktor cuaca jadi, memang tahun ini cuaca lebih dominan pada hujan sehingga ini sangat mempengaruhi proses pembentukan garam,” terang
