Cerita UMKM Lokal Berdayakan Komunitas Sekitar Lewat Dukungan AdaKami

Posted on

Bagi sebagian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan. Di berbagai daerah, UMKM justru tumbuh dari akar rumput dengan membawa misi sosial dan lingkungan, mulai dari pemberdayaan difabel, pengelolaan sampah, hingga penguatan peran petani perempuan.

Melihat peran tersebut, platform pinjaman daring AdaKami menghadirkan program #UsahaBarengAdaKami untuk mendukung UMKM melalui bantuan permodalan yang inklusif, guna meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas dampak positif bagi komunitas dan lingkungan.

“Seringkali inisiatif positif para pelaku UMKM terhambat keterbatasan pendanaan. Melalui #UsahaBarengAdaKami, kami ingin memastikan upaya-upaya tersebut dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas secara berkelanjutan,” ujar Brand Manager AdaKami, Jonathan Kriss.

Salah satu kisah datang dari Bantul, Yogyakarta. Difabel Zone, komunitas perajin batik difabel yang didirikan sejak 2017 oleh Lidwina Wurie Akhdiyanti.

“Tujuan saya mendirikan Difabel Zone adalah untuk menciptakan ruang berkarya yang setara bagi teman-teman difabel, membantu mereka memiliki penghasilan mandiri, dan turut memberdayakan potensi mereka,” ujar Lidwina dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (15/1/2026).

Difabel Zone kini memberdayakan sekitar 50 pengrajin difabel dari Yogyakarta, Magelang, dan Salatiga. Mereka memproduksi batik tulis berkualitas tinggi dengan proses yang teliti dan profesional.

Satu produk batik tulis bahkan dapat memakan waktu pengerjaan hingga dua minggu. Dalam sebulan, Difabel Zone mampu menghasilkan sekitar 20 kain batik serta 500 produk turunan seperti pouch dan tas. Meski permintaan pameran dan kemitraan terus meningkat, keterbatasan sarana display dan produksi menjadi tantangan.

Melalui program #UsahaBarengAdaKami, Difabel Zone memperoleh dukungan permodalan untuk melengkapi kebutuhan produksi dan display. Bantuan ini membuka peluang agar karya para perajin difabel dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

“Terima kasih AdaKami yang telah mendukung langkah teman-teman difabel dalam berkarya sambil melestarikan warisan budaya Indonesia,” tuturnya.

Urban Compost Bali Ubah Sampah Organik Bernilai

Dari sektor lingkungan, dampak serupa dirasakan oleh Urban Compost Bali, UMKM yang bergerak di bidang daur ulang sampah organik. Didirikan oleh Buya Azmedia pada 2019, Urban Compost Bali secara konsisten mengolah sampah organik dari rumah tangga, kafe, dan restoran di kawasan Canggu, Seminyak, dan sekitarnya.

“Kami mengolah sampah organik menjadi kompos atau media tanam. Ini adalah upaya kami menghadirkan perubahan kecil yang berarti, mengurangi sampah sekaligus menjaga bumi tetap lestari,” kata Buya.

Sepanjang 2025, Urban Compost Bali berhasil mengolah lebih dari 1.900 ton sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 ton pupuk kompos berhasil diproduksi melalui proses alami dan ramah lingkungan. Namun, keterbatasan peralatan, seperti mesin kompos, membuat proses produksi menyita banyak tenaga dan waktu.

Kebutuhan tersebut akhirnya terjawab melalui dukungan permodalan dari program #UsahaBarengAdaKami. Dengan tambahan alat produksi, Urban CompostBali optimistis dapat meningkatkan kapasitas pengolahan sampah secara signifikan.

“Dengan bantuan ini, kami tahu bahwa kami tidak sendiri dalam misi melestarikan bumi, terutama di Bali,” ujarnya.

Pisangne K-Tamane Berdayakan Petani Perempuan Bali

Sementara itu, dari sektor pertanian dan agrowisata, Made Sumertayasa menghadirkan kisah pemberdayaan petani perempuan melalui usaha Pisangne K-Tamane. Sejak 2010, Made merintis usaha ini berangkat dari keresahan akan minimnya nilai tambah yang diterima petani, khususnya petani perempuan di sekitarnya.

“Saya berpikir, apa yang bisa kita lakukan dengan sumber daya yang ada untuk memajukan petani-petani perempuan,” kata Made.

Ia menggandeng sekitar 20 petani perempuan yang mengelola kebun seluas tiga hektar di Bali. Berbagai hasil kebun seperti pisang, lemon, teh bunga, madu, hingga produk budidaya lembah diolah menjadi minuman dan makanan kering sebagai bagian dari pengembangan agrowisata Bali.

Melalui dukungan permodalan dari program #UsahaBarengAdaKami, Pisangne K-Tamane dapat membeli peralatan produksi yang lebih memadai. Hasilnya, efektivitas produksi meningkat hingga 100%, sekaligus membuka peluang perluasan pasar.

“Dengan bantuan ini, kami merasa masih ada yang peduli dengan komunitas petani, khususnya petani perempuan di Bali,” tutur Made.

Ketiga kisah ini menegaskan bahwa UMKM dapat tumbuh sambil memberi dampak bagi komunitas dan lingkungan. Lewat program #UsahaBarengAdaKami, AdaKami berupaya mendukung UMKM agar berkembang secara inklusif dan berkelanjutan. lokal