Di sekitar Pasar Lenteng Agung, tampak berjejer tukang jahit keliling bersepeda. Meski penghasilan kini naik turun dan tak seberapa, mereka dengan sabar menunggu pelanggan yang memerlukan jasa permak hingga menambal pakaian-pakaian yang berlubang.
Salah satunya ada, Lasmina (34), yang sehari-hari mangkal di pinggir Jl. Raya Jagakarsa dan berada paling dekat dengan kawasan pasar. Sehari-hari, dirinya mangkal di trotoar pinggir jalan itu sejak pukul 09.00 hingga 17.00 WIB.
“Sekarang sepi, ibaratnya yang biasa Sabtu-Minggu jadi hari kita banyak terima jahit, sekarang sudah sama kayak hari-hari biasa. Jauh lah dibandingkan dulu,” keluhnya saat ditemui detikcom, Senin (5/1/2026).
Menurutnya persaingan yang kian ketat antar tukang jahit menjadi penyebab utama penurunan omzet. Sementara jumlah pelanggan yang datang masih sangat terbatas.
“Kalau jahit kan nggak kaya makanan yak, nggak yang sekali pakai habis gitu. Di sini sekarang ramai banget tukang jahitnya, dari ujung ke ujung ada, sampai ke dekat Rumah Sakit Aulia situ ada,” paparnya.
Di luar itu, ancaman penertiban juga menjadi keseharian yang harus dihadapi para penjahit keliling. Walau menurutnya saat ini pemerintah daerah memberikan kelonggaran bagi mereka untuk tetap berusaha di pinggir-pinggir jalan itu.
“Penertiban ada, kalau lagi ada penertiban ya saya kabur ke gang-gang. Tapi sekarang mereka agak longgar lah ya, terutama kalau buka jam 9 atau 10 itu masih dibolehin, paling kalau pagi nggak boleh tuh,” kata Lasmina.
“Kalau di sini suka ada Satpol PP, nggak boleh mangkal jam tujuh, delapan, sampai sembilan lah. Soalnya ini jalan ramai kan. suka macet pas pagi, jadi rata-rata baru pada datang rada siang,” ucapnya lagi.
Meski demikian, Lasmina tetap bertahan karena pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber nafkah bagi keluarganya sekaligus peninggalan usaha dari almarhum suami yang berpulang sekitar satu setengah tahun yang lalu.
“Dulu usaha ini sama almarhum dari gerobak masih sewa satu, ganti-gantian jahit, jadi kalau sepi sudah pusing tuh bayar sewanya gimana. Sekarang sudah punya sendiri, waktu itu bikin dua Rp 5 jutaan lah, sebelah-sebelahan di sini mangkalnya, jadi kalau lagi sepi juga nggak terlalu berasa soalnya nggak bayar-bayar sewa lagi,” jelas Lasmina.
Senada, penjahit keliling lainnya bernama Heri (33) juga mengatakan saat ini faktor utama yang membuat orderan semakin sepi adalah banyaknya saingan usaha. Padahal jumlah pelanggan masih segitu-segitu saja.
“Kalau pelanggan mah masih ada, masih banyak lah. Tapi kan yang jahit juga makin banyak, jadinya saingan. Dulu di sini paling sekitar 15 orang lah total, sekarang sampai ke sana-sana ada semua sepanjang jalan ini. Ini belum ujung,” kata Heri yang mangkal dekat dengan persimpangan Jl. Raya Jagakarsa dengan Jl. Jeruk Raya.
Selain persaingan yang semakin sengit, tak jarang cuaca juga turut mempengaruhi penghasilan para tukang jahit keliling ini. Sebab saat hujan, mereka yang membuka lapak di pinggir-pinggir jalan bermodalkan payung lusuh seadanya, terpaksa tutup sementara.
“Lagian kalau hujan siapa yang mau datang? Jadi ya tutup, ntar kalau sudah reda buka lagi. Makanya lebih mending panas daripada hujan,” tuturnya.
Saksikan Live DetikSore :
Lihat juga Video: Tukang Jahit di Pekalongan Kaget Didatangi Petugas Pajak soal Transaksi Rp 2,9 M






