Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung menguat. Hal ini ditopang oleh inflasi yang rendah serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baik.
Perry mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Desember 2025 tercatat Rp 16.675 atau melemah 3,48% dibandingkan akhir tahun 2024. Selanjutnya, hingga 23 Januari 2026, nilai tukar rupiah tercatat 16.815 per dolar AS atau mengalami pelemahan sebesar 0,83% dibandingkan dengan level akhir Desember 2025.
“Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil rapat berkala KSSK I-2026, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Tak hanya itu, Perry menerangkan pelemahan rupiah juga disebabkan adanya kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik yang sejalan dengan kegiatan ekonomi. Ke depan, BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi terukur di transaksi non deliverable forward pasar luar negeri maupun domestik.
Selain itu, pihaknya juga menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar spot dalam negeri serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro market. Ke depan, Perry memprediksi kinerja rupiah stabil bahkan cenderung menguat.
“Ke depan nilai tukar akan stabil dan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tambah Perry.
