Bos BI Beberkan Tarif AS hingga Kripto Jadi Tantangan Ekonomi baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkap prospek perekonomian global diprediksi masih penuh tantangan hingga 2027. Setidaknya terdapat lima faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi global, antara lain karena kebijakan tarif hingga kripto.

Faktor pertama, kata Perry, perlambatan ekonomi global terjadi akibat kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, kebijakan ini menekan perdagangan global dan melemahkan multilateralisme.

“Kebijakan tarif Amerika Serikat berlanjut mengakibatkan turunnya perdagangan dunia, meredupnya multilateralisme bangkitnya bilateral dan regionalisme,” ungkap Perry dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, di Kompleks Kantor Pusat BI, Jakarta Pusat, Jumat (29/11/2025).

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Kedua, melambatnya pertumbuhan ekonomi negara besar seperti AS dan China yang berdampak pada melambatnya penurunan inflasi dan mempersulit gerak moneter bank sentral. Ketiga, tingginya utang dan suku bunga di negara maju yang berdampak langsung pada negara berkembang.

“Karena defisit fiskal yang terlalu besar berdampak pada tingginya bunga dan beban fiskal di negara-negara berkembang,” ungkapnya.

Kemudian keempat, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia lantaran transaksi produk derivatif yang berlipat, terutama hedge fund dengan machine trading. Kelima, adopsi stablecoin oleh perusahaan swasta tanpa pengaturan yang jelas.

“Maraknya uang kripto dan stablecoin pihak swasta. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang jelas. Disinilah perlunya central bank digital currency,” ungkapnya.

Perry menegaskan, Indonesia tidak kebal dari tekanan eksternal tersebut. Karena itu, BI bersama pemerintah akan terus merespons dengan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan mandiri.

“Penting untuk eling lan waspodo, seperti nasehat Ronggowarsito. Prospek ekonomi global masih meredup pada tahun 2026 dan 2027,” pungkasnya.