Gelombang unjuk rasa yang dipicu krisis ekonomi menerjang Iran di awal 2026 ini. Selain konflik dalam negeri, negara arab yang satu ini juga harus berhadapan dengan dampak lebih lanjut dari sanksi internasional hingga ancaman lingkungan.
Melansir Deutsche Welle (DW), Sabtu (3/1/2025), saat ini ekonomi Iran sedang berjuang melawan inflasi tinggi dan sanksi terkait program nuklir pemerintah. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), inflasi di Iran tercatat sudah mencapai 32,5% pada 2024 kemarin.
Lebih lanjut, IMF memperkirakan harga konsumen akan naik sebesar 42,4% pada 2025 dan tidak akan turun di bawah angka 40% hingga 2026 ini. Sebagai perbandingan, Bank Sentral Eropa menargetkan tingkat inflasi 2% di zona euro, sementara nilai mata uang nasional Iran, rial, sebelumnya telah anjlok ke titik terendah dalam sejarah.
Akibatnya perekonomian menderita kelemahan struktural kronis. Hal ini hanya dapat mengurangi dampak penurunan pendapatan ekspor minyak, tetapi tidak dapat menghilangkannya dalam jangka panjang.
“Prospek sulit bagi Iran merupakan konsekuensi dari program nuklir dan rudal pemerintah. Pertumbuhan ekonomi di Iran juga hanya sekitar 1% selama dua dekade terakhir,” tulis Mantan Wakil Presiden Iran, Hossein Marashi.
“Kurangnya pertumbuhan ekonomi telah sangat mengurangi daya beli penduduk. Mengimpor bahan makanan pokok dengan mata uang asing terbukti sangat sulit,” terangnya.
Pada akhirnya, Marashi hanya bisa menyimpulkan bahwa perekonomian Iran telah disandera oleh isu nuklir selama 20 tahun terakhir yang membuat mereka terima sanksi internasional dan terisolasi dari dunia.
Ekonomi Runtuh, Masyarakat Demo Besar-besaran
Demo berdarah di Iran telah memasuki hari keenam pada Jumat (2/1) kemarin. Aksi demonstrasi tersebut terus meningkat dan meluas ke berbagai wilayah seiring dengan bentrokan yang memanas antara massa dan aparat keamanan.
Melansir Al Jazeera, aksi demo pertama kali terjadi saat para pemilik toko di Teheran menutup bisnis mereka pada hari Minggu (28/12) untuk memprotes krisis ekonomi salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia ini. Protes ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup setelah rial anjlok ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS pada akhir Desember kemarin.
Terlepas dari janji pemerintah untuk melakukan reformasi ekonomi dan upaya pemberantasan korupsi, aksi protes terus berlanjut. Hanya dalam beberapa hari gelombang protes terus meningkat, dengan demonstrasi ekonomi berubah menjadi protes politik seiring dengan menyebarnya keresahan di seluruh negeri.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Bermula dari protes tunggal soal runtuhnya ekonomi Iran oleh para pemilik toko di Pasar Besar Teheran kemudian menyebar ke 17 dari 31 provinsi di Iran pada Malam Tahun Baru. Dalam tahap ini, mahasiswa dan demonstran dari berbagai lapisan masyarakat bergabung.
Ribuan orang telah dimobilisasi di seluruh negeri dan pasukan keamanan merespons dengan keras di beberapa tempat. Hingga pada Kamis (1/1/2026), kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan tiga orang tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran di Lordegan, Iran barat daya. Tiga kematian lainnya dilaporkan di Azna dan satu lagi di Kouhdasht, keduanya di Iran tengah.
“Beberapa pengunjuk rasa mulai melemparkan batu ke gedung-gedung administrasi kota, termasuk kantor gubernur provinsi, masjid, Yayasan Martir, balai kota, dan bank,” lapor Fars tentang protes di Lordegan.






