Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru bakal dibentuk untuk fokus pada sektor tekstil. BUMN ini diarahkan bisa menjadi pengungkit sektor industri tekstil di Indonesia.
Pembentukan BUMN tekstil untuk menggantikan kegiatan ekonomi PT Sritex, meskipun perusahaannya sudah tidak bisa diselamatkan. Dengan kata lain, kegiatan ekonomi yang selama ini dijalankan Sritex bisa diselamatkan pemerintah lewat BUMN agar tetap berjalan.
Pengamat BUMN Toto Pranoto mengatakan saat ini sektor tekstil merupakan kategori bisnis yang kurang strategis. Toto menilai agak sulit mengembangkan BUMN tekstil di tengah daya saing teknologi dan biaya sumber daya manusia yang tidak kompetitif.
“Dalam konteks Danantara menurut saya tekstil itu masuk ke kategori industri yang kurang strategis. Tekstil dikenal sebagai industri dengan karakter labor intensive. Menurut saya daya saing tekstil Indonesia merosot karena masalah daya saing teknologi dan biaya SDM yang tidak kompetitif,” ungkap Toto kepada detikcom, Senin (26/1/2026).
Bagi Toto, Danantara perlu berhitung dengan cermat terkait rencana investasi apabila ingin BUMN tekstil berhasil. Danantara harus tahu tujuan apa yang ingin dicapai dan strategi apa yang akan digunakan.
“Kalau Danantara berencana akan bangun industri tekstil lagi, berarti mesti ada strategi diferensiasi yang sangat berbeda supaya ada segmentasi pasar yang berbeda dengan negara kompetitor di Asia,” ujar Toto.
Menurutnya, BUMN sudah lama tidak terlibat di industri tekstil, maka ada baiknya Danantara melibatkan eksportir tekstil swasta yang berpengalaman untuk bermitra dengan BUMN di tahap awal.
Di sisi lain, Pengamat BUMN dari NEXT Indonesia Center Herry Gunawan mengatakan apabila BUMN memang terpaksa mau masuk ke tekstil, lebih baik perusahaan yang dibentuk memperkuat rantai pasok bahan baku saja, jangan sampai ikut masuk ke usaha di sektor hilir dan ikut membanjiri pasar.
“Fokusnya harus memperkuat rantai pasok bahan baku, seperti industri polimer yang selama ini menjadi komoditas impor sangat besar untuk tekstil. Jangan sampai malah masuk ke sektor hilir, nanti malah membuat tekanan baru bagi industri tekstil yang sudah ada,” pungkas Herry.
Simak juga Video ‘Produsen Serat dan Filamen RI Gantungkan Harapan Ke Purbaya Soal Serangan Impor Garmen’:
