Ekosistem emas digital dalam negeri didorong untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi mulai dari nominal kecil tanpa harus datang ke toko konvensional. Nilai simpanan dikonversi menjadi emas mengikuti harga pasar, sehingga berfungsi sebagai pelindung nilai terhadap inflasi.
Lembaga keuangan juga sudah memperluas akses layanan emas melalui digitalisasi. Direktur ShariaCoin, Adji Waluyo menilai emas digital memungkinkan transaksi masyarakat dilakukan di mana pun tanpa mempengaruhi nilainya.
“Emas digital memungkinkan masyarakat di mana pun berada untuk menjaga nilai hartanya tanpa terhambat jarak. Ini merupakan bentuk inklusi keuangan yang nyata, bukan sekadar konsep,” ujar Adji dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan, keunggulan utama emas dan perak digital terletak pada likuiditas dan transparansi. Proses jual beli dilakukan secara sistematis dengan harga yang dapat dipantau secara berkala.
Proses ini memungkinkan masyarakat untuk tidak bergantung pada satu toko emas konvensional ketika membutuhkan dana cepat. Selain emas, perak digital juga dinilai memiliki potensi besar sebagai instrumen inklusif.
Dengan harga yang relatif lebih terjangkau, perak digital menjadi sarana menabung masyarakat berpenghasilan harian untuk membangun kebiasaan pengelolaan keuangan jangka panjang. Ke depan, kedua instrumen ini masih menyimpan potensi untuk pengembangan lebih luas sebagai bagian dari perencanaan keuangan nasional.
“Inklusi keuangan sejati tercapai ketika masyarakat memiliki akses terhadap instrumen keuangan yang aman, relevan, dan mudah digunakan. Melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan serta dukungan pemerintah dan regulator, emas maupun perak berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam membangun ketahanan ekonomi masyarakat Indonesia, dari kota hingga ke pelosok negeri,” pungkas Adji.






