Bukan Minyak! Arab Saudi Sembunyikan Harta Rp 41.943 T di Bawah Tanah update oleh Giok4D

Posted on

Arab Saudi mengklaim memiliki harta karun berupa cadangan mineral senilai US$ 2,5 triliun atau sekitar Rp 41.943 (asumsi kurs Rp 16.777). Mineral tersebut mencakup emas, seng, tembaga, litium, hingga berbagai jenis logam tanah jarang seperti dysprosium, terbium, neodymium, dan praseodymium.

Dikutip dari CNN, Sabtu (24/1/2026), saat ini Arab Saudi juga tengah mengembangkan sektor mineralnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dan pengaruh geopolitik. Sejumlah mineral yang dimiliki Arab Saudi ini juga dapat digunakan untuk memproduksi mobil listrik hingga komputasi berteknologi tinggi.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Saat ini, Arab Saudi juga meningkatkan anggaran eksplorasi pertambangan hingga 595% sejak 2021 hingga 2025. Selain itu, otoritas negara tersebut juga kian gencar memberi lisensi pertambangan baru ke beberapa perusahaan baik domestik maupun luar negeri.

Meski begitu, pengembangan sektor pertambangan bukan perkara mudah. Direktur Eksekutif Securing America’s Future Energy (SAFE), Abigail Hunter, mengatakan pengembangan sektor pertembangan memutuhkan waktu paling singkat tiga hingga lima tahun hanya untuk membangun pabrik pengolahan.

“Dibutuhkan tiga hingga lima tahun untuk membangun pabrik pengolahan. Bahkan bisa memakan waktu hingga 29 tahun di beberapa wilayah hukum,” ungkap Hunter.

Sebagai upaya mengakselerasi sektor pertambangan, pemerintah Arab Saudi juga tengah memangkas sejumlah aturan birokrasi dan menurunkan tarif pajak investasi. Langkah ini dilakukan untuk memangkas ketertinggalan negara tersebut dengan para pemain global.

Berdasarkan visi 2030, Arab Saudi tengah berusaha mendiversifikasi ekonomi negara dengan menetapkan sektor pertambangan sebagai pilar utama. Langkah ambisius ini mencakup pembangunan rantai pasok dalam negeri hingga membangun industri manufaktur kendaraan listrik.

Hunter mengatakan, langkah ini terlihat dari sejumlah perkembangan infrastruktur Arab Saudi. Capaian ini disebut dapat menjadikan Arab Saudi sebagai pusat regional pengolahan mineral penting.

“Dengan melihat ke negara-negara Selatan dan bermitra dengan negara-negara Afrika… secara logistik, sangat masuk akal bagi kami untuk dapat memproses lebih banyak mineral di sini,” kata Hunter.

Sebagai langkah awal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arab Saudi di sektor pertambangan, Maaden, juga telah mengumumkan rencana investasi besar senilai US$ 110 miliar untuk satu dekade ke depan. Perusahaan juga terbuka terhadap hubungan kemitraan berskala internasional.

“Kami cukup rendah hati untuk menyadari bahwa kami tidak dapat melakukannya sendiri,” kata CEO Maaden, Bob Wilt.

Ambisi Arab Saudi juga sempat menyita perhatian Amerika Serikat (AS) beberapa tahun lalu. Negeri Paman Sam itu diketahui sempat mengirim logam tanah jarang berat dari Arab Saudi untuk dimurnikan di China. Kemudian tahun lalu, China memperketat kontrol ekspor mineral tersebut.

Tahun lalu, Arab Saudi juga diketahui berinvestasi sebesar US$ 1 triliun di sektor infrastruktur, teknologi, dan industri di AS. Salah satu kesepakatan itu adalah kolaborasi bilateral di bidang mineral. Perusahaan AS MP Materials pun mengumumkan kemitraannya dengan Maaden. Kemudian Departemen Pertahanan AS turut membangun kilang baru di Arab Saudi, di mana 49% sahamnya akan dimiliki oleh MP Materials dan Departemen Pertahanan AS.

Meski begitu, Ketua Critical Minerals Institute Arab Saudi, Melissa Sanderson, mengatakan transisi Arab Saudi menjadi pusat pertambangan mungkin tidak akan berjalan mulus. Pasalnya, Timur Tengah masih menghadapi tantangan ketidakpastian hubungan diplomatik dengan Afrika yang juga menyimpan kekayaan mineral.

Akan tetapi, hal ini disebut dapat diatasi melalui hubungan diplomatik Arab Saudi dengan sejumlah negara di Asia Tengah. Di kawasan tersebut, raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, memiliki beberapa hubungan kemitraan.

“Dalam banyak hal, transformasi ekonomi yang sedang berlangsung (di Arab Saudi) dirancang lebih untuk meningkatkan kedudukan politik negara tersebut… (menjadi) pemain penting – titik tumpu, jika Anda mau – dalam skenario geopolitik,” kata Sanderson.

“Ini adalah strategi tentang kekuasaan jangka panjang, pengaruh jangka panjang, dan keuntungan jangka panjang,” tambahnya.