PT Adhi Karya (Persero) Tbk bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pemulihan konektivitas antar wilayah pascabencana melalui pembangunan Jembatan Permanen Duplikasi Krueng Tingkeum.
Berlokasi di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, jembatan ini merupakan jembatan permanen yang dibangun tepat di sisi jembatan sementara tipe bailey yang sebelumnya telah difungsionalkan pada 27 Desember 2025 sebagai solusi darurat pasca putusnya akses akibat bencana.
Pembangunan jembatan permanen ini diharapkan mampu memperlancar kembali arus transportasi darat yang sempat terganggu, memastikan kelancaran jalur logistik, serta mendorong pemulihan perekonomian daerah dan masyarakat secara bertahap pasca bencana.
Pembangunan Jembatan ditargetkan selesai pada Juli 2026, yang diharapkan bermanfaat bagi masyarakat dan memperkuat konektivitas antarwilayah secara berkelanjutan. Selama masa konstruksi berlangsung, jembatan bailey yang telah berfungsi akan tetap dioperasikan guna menjaga kelancaran mobilitas masyarakat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pembangunan Jembatan Duplikasi Krueng Tingkeum merupakan satu dari delapan jembatan yang menandai dimulainya percepatan pembangunan jembatan permanen, meskipun sebagian wilayah masih dalam tahap tanggap darurat.
“Kita mulai pembangunan permanen beberapa jembatan dan penanganan longsoran di beberapa titik di Aceh. Kita percepat walaupun masih tahap tanggap darurat karena sebagian yang lewat sudah macet, kita tidak bisa mengontrol 100% tonase kendaraan. Kalau tidak dipercepat, pembatasan kendaraan berat akan terus menimbulkan persoalan di lapangan, karena masyarakat juga butuh logistik,” ujar Menteri Dody dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).
Sebagai informasi Pembangunan Jembatan Duplikasi Krueng Tingkeum merupakan bagian dari program penanganan jembatan terdampak bencana yang dilaksanakan oleh Kementerian PU, guna memulihkan konektivitas wilayah yang terputus akibat bencana alam.
Jembatan ini tercatat sebagai satu dari 16 jembatan penghubung yang putus di Provinsi Aceh, sehingga penanganannya menjadi prioritas untuk memastikan kembali berfungsinya jalur transportasi utama yang menghubungkan Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.
Direktur Utama ADHI, Moeharmein Zein Chaniago menyampaikan bahwa akses infrastruktur adalah fondasi pemulihan wilayah, karena dapat mempercepat distribusi bantuan, aktivitas ekonomi, dan layanan publik kepada masyarakat.
Kehadiran jembatan ini diharapkan dapat menghubungkan kembali konektivitas antar wilayah, sekaligus menjadi penggerak pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
“Jembatan Krueng Tingkeum berperan strategis sebagai penghubung utama lintas timur Sumatera yang menjadi akses vital bagi aktivitas pendidikan, layanan kesehatan, distribusi logistik, serta pergerakan ekonomi masyarakat,” sebut dia.






