Aktivitas penjualan daging sapi di sejumlah pasar tradisional kawasan Jakarta Timur terhenti seiring aksi mogok yang dilakukan pedagang daging se-Jabodetabek selama tiga hari, mulai Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1) mendatang.
Meja-meja berlapis keramik putih dan kait penggantung yang biasa digunakan untuk memajang potongan daging pun kini terlihat kosong lengang. Hanya sedikit pedagang yang masih berjaga untuk memberitahukan pelanggan yang datang bahwa mereka sedang melayangkan aksi protes sehingga tak ada yang berjualan.
“Datang ke pasar hanya buat mengingatkan pelanggan. Pelanggan yang belum tahu, pada datang kita bilangin. Kita pokoknya ini cuma ingin kasih tahu ke masyarakat saja, biar tahu kalau harga daging mahal,” ucap Dudi selaku pedagang daging di Pasar Klender SS, saat ditemui detikcom di lokasi, Kamis (24/1/2026).
Secara umum ia menjelaskan harga daging sapi hidup alias belum dipotong di feedlot (tempat penggemukan sapi) sudah di angka Rp 56.000 per kilogram. Saat masuk ke rumah potong hewan (RPH) harga daging karkas saat ini sudah berada di kisaran Rp 113.000 – 117.000 per kilogram.
Karkas merupakan daging yang masih melekat dengan tulang atau organ dalam lainnya. Sehingga harga daging utuh di tingkat pedagang sudah mencapai Rp 130.000 – 135.000 per kilogram.
“Paling nggak kita harus naikkin Rp 10.000, kalau nggak kita rugi. Jadi kita harus jual Rp 140.000 – 150.000 lah. Kalau masyarakat kan tahunya di sini harga mahal. Ya kasihan dong,” sambung Dudi.
Ia mengatakan imbas tingginya harga daging sapi saat ini, tak sedikit pelanggan khususnya para pedagang yang mengurangi pembelian. Alhasil omzet penjualan para pedagang ikut merosot.
“Kalau misalkan harga ketinggian kan juga susah laku juga. Kayak orang beli Padang biasa Rp 15.000 sebungkus paket rendang, tapi harga daging naik, Padang ikut naikkin jadi Rp 20.000, mikir dia beli rendang, mending pakai ayam masih Rp 13.000,” tutur Dudi.
“Kalau Padang susah laku, mereka ke sini kan juga kurangi, biasa dua kilogram jadi satu kilogram doang, berkurang lagi kita. Biasa jual satu kuintal, sekarang cuma 50 kilogram sehari,” ucapnya lagi.
Padahal menurut Dudi dalam kondisi penjualan normal, dengan kenaikan harga minimal yang harus diambil pedagang Rp 10.000 per kilogram, untung bersih yang bisa dibawa pulang satu lapak hanya sekitar Rp 400.000.
“Kita untung paling Rp 400.000, tapi kan ada yang bantu-bantu masa nggak kita kasih upah. Rp 400.000 bagi tiga, satu orang paling cuma dapat Rp 130.000. Kalau UMP sudah mau Rp 6.000.000, kita nggak sampai Rp 4.000.000, belum bayar sewa sama listrik segala macam, jauh di bawah UMP,” keluhnya.
“Sekarang turun lagi jualan, hampir setengah itu kan, jadi bersih paling bawa Rp 70.000. Sebulan berapa? Jauh dari UMP, kita jual 30 hari nggak ada libur masih jauh dari UMP,” sambung Dudi.
Hal serupa juga dikeluhkan oleh pedagang daging lain di Pasar Jatinegara bernama Dede. Ia mengatakan saat harga di tingkat pedagang sudah tinggi, sering kali dirinya hanya bisa menjual dengan harga modal kepada para langganannya.
“Kalau pelanggan tetap beli, biasanya kan mereka jualan juga, bakso, soto, gitu-gitu. Tetap diambil, jadi nggak pengaruh. Paling yang nggak setiap hari datang gitu, liat harga daging mahal, nggak jadi beli,” tutur Dede.
“Sekarang harga naik sudah bukan sebulan sekali, seminggu sekali, tapi bisa seminggu tiga kali. Kadang kita juga buat langganan jual harga modal doang, harga kalau sudah Rp 140.000 kan mereka susah juga. Di sini harga naik, belum tentu mereka bisa naikkin harga dagangannya kan,” tambahnya.
Menurut Dede kondisi ini kurang lebih sama di pasar-pasar se-Jabodetabek. Sehingga para pedagang memutuskan untuk mogok jualan selama tiga hari. Setelah itu mereka akan kembali jualan, untuk menyambung hidup. Namun jika harga tak kunjung pulih, mau tak mau mereka menjual daging sapi dengan harga tinggi sesuai kondisi.
“Sudah nggak untung kalau banyak jual di harga modal mah. Kan nggak dapat apa-apa kita jualan. Makanya mending nggak usah jualan sekalian. Untungnya kita didukung juga kan sama asosiasi pedagang sapi se-Indonesia buat mogok,” ucapnya.
Lihat Video ‘Mogok Dagang, Lapak Pedagang Sapi di Pasar Kosong Melompong!’:






