Ekonomi China Terancam Gara-gara Warga Ogah Punya Anak baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Angka kelahiran di China turun ke rekor terendah sepanjang 2025. Hal menunjukkan krisis demografis yang semakin dalam di tengah upaya pemerintah negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu untuk mengembalikan populasi mereka.

Biro Statistik China melaporkan angka kelahiran di Negeri Tirai Bambu turun cukup signifikan dari 6,4 pada 2023, menjadi 5,6 per 1.000 orang sepanjang 2025 kemarin. Ini merupakan angka terendah sejak tahun 1950-an.

Di sisi lain, jumlah penduduk lanjut usia di China terus meningkat. Terakhir jumlah penduduk berusia 60 tahun ke atas naik dari 22% pada 2024, menjadi 23% pada 2025. Akibatnya, jumlah penduduk China berkurang hingga 3,4 juta jiwa menjadi 1,405 miliar orang pada 2025.

Risiko Ekonomi

Kepala Ekonom di Economist Intelligence Unit, Yue Su memperingatkan penurunan angka kelahiran yang berlarut-larut dapat menimbulkan risiko ekonomi yang besar ke depan. Sebab jumlah bayi yang lahir lebih sedikit berarti menyusutnya angkatan kerja di masa depan.

Padahal kelompok muda ini diperlukan untuk menopang kelompok pensiunan yang berkembang pesat, berpotensi menambah tekanan pada sistem pensiun yang sudah berat jika tak ada regenerasi. Hal ini juga dapat memaksa peningkatan iuran jaminan sosial, sehingga mengurangi pendapatan yang dapat dibelanjakan bagi pekerja muda.

“Penurunan jumlah penduduk berarti basis konsumen yang lebih kecil di masa depan, sehingga meningkatkan risiko ketidakseimbangan penawaran dan permintaan yang lebih luas,” kata Su dikutip dari CNBC, Selasa (20/1/2026).

Penyebab Turunnya Kelahiran

Ia berpendapat penurunan angka kelahiran ini disebabkan oleh gagalnya dorongan dari berbagai stimulus untuk masyarakat agar mau memiliki anak. Sebab kaum muda saat ini banyak yang menunda pernikahan dan memiliki anak imbas tekanan ekonomi yang meningkat dan persaingan yang semakin ketat di tempat kerja.

Sejauh ini pemerintah China telah meluncurkan berbagai insentif termasuk hadiah uang tunai dan pengurangan pajak untuk rumah tangga dengan anak di bawah usia 3 tahun. Negeri Tirai Bambu juga telah memperpanjang cuti melahirkan bagi para pekerja perempuan dari 98 hari menjadi 158 hari.

Nyatanya insentif ini tak berhasil memberikan dampak yang signifikan ataupun dorongan bagi warganya agar mau memiliki anak. Hal ini terlihat dari jumlah kelahiran sepanjang 2025 kemarin yang hanya sekitar 7,9 juta jiwa, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang capai 9,5 juta jiwa.

“Laju penurunan ini sangat mencolok, terutama tanpa adanya guncangan besar,” ucap Su.