Produksi Batu Bara Dipangkas Jadi Sekitar 600 Ribu Ton, Nikel Jadi 250-260 Juta Ton

Posted on

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan jumlah produksi batu bara dan nikel dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, dipangkas.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan untuk produksi batu bara tahun ini dipangkas jadi sekitar 600 juta ton.

Sementara produksi nikel akan disesuaikan denga kapasitas produksi dari smelternya yang berada di kisaran 250 hingga 260 juta ton.

“Kan Pak Menteri sudah sampaikan, kurang lebih 600 juta ton itu batu bara. Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250-260 (juta ton),” ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan pemangkasan produksi batu bara dilakukan untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan global serta menstabilkan harga.

Pasalnya saat ini dari total perdagangan batu bara global yang berkisar 1,3 miliar ton per tahun. Sementara Indonesia sendiri menyuplai 514 juta ton atau setara kurang lebih sekitar 43%.

“Akibatnya apa? Supply and demand itu tidak terjaga. Akhirnya harga batu barang turun. Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita. Jadi jangan cara berpikir kita mengelola sumber daerah alam itu seolah-olah harus selesai semua sekarang. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita harus jaga, aspek-aspek keadilan juga kita tetap harus jaga,” jelas Bahlil.