Ekspor beras Basmati India ke Iran hampir terhenti seiring memanasnya aksi demonstrasi di negara kaya minyak itu. Para pemasok khawatir akan potensi gagal bayar imbas ketidakpastian ekonomi dan politik Iran.
Bukan itu saja, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (12/1) kemarin mengancam untuk kenakan tarif tambahan sebesar 25% kepada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran.
Hal ini membuat para pemasok India semakin enggan untuk menandatangani kontrak baru dengan pembeli Iran.
“Pungutan 25% di bawah kerangka kerja Trump menambah tantangan tambahan bagi sektor beras basmati India,” kata Akshay Gupta selaku kepala eksportir di perusahaan penjual beras ternama India, KRBL Ltd, dikutip dari Reuters, Selasa (13/1/2026).
Melemahnya transaksi jual-beli beras antar kedua negara ini tentu dapat memberikan pukulan besar bagi Iran. Sebab India adalah pemasok beras terbesar Iran, dengan beras sebagai komoditas yang menyumbang hampir dua pertiga dari seluruh impor Iran dari negara tersebut.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
“Kami khawatir tentang pembayaran untuk beras yang dikirim dalam dua bulan terakhir,” kata seorang eksportir beras yang berbasis di New Delhi, yang menolak disebutkan namanya.
“Dalam beberapa kasus, pembeli melaporkan bahwa mereka tidak menerima jumlah barang yang lengkap, dalam kasus lain mereka telah meninggalkan negara itu karena protes yang sedang berlangsung,” sambungnya.
Belum lagi aksi protes yang kian memanas dan tanggapan keras pemerintah Iran membuat perekonomian negara itu kian terpuruk. Alhasil tak sedikit importir beras di Iran yang mengaku tak sanggup melakukan pembelian maupun pelunasan pembayaran.
“Para importir telah menyampaikan ketidakmampuan mereka untuk memenuhi komitmen yang ada dan melakukan pembayaran ke India, menciptakan ketidakpastian yang lebih besar bagi para eksportir,” terang Dev Garg selaku wakil presiden Federasi Eksportir Beras India (IREF) dalam sebuah pernyataan.
Simak juga Video: Trump Ancam Tarif 25% untuk Negara yang Berbisnis dengan Iran






